Skip to main content

Posts

Emak 35++ Wajib Punya Alat Ini Usai Melahirkan

Haloooo... Permisi mau update sepele tapi menurut emak ini penting. FYI, si emak baru aja melahirkan di usia 40 tahun. Zezuatu yang ga pernah terlintas di pikiran setelah menikah. Jadi 100 persen surprise yang sukses bikin terkaget-kaget.  Meski begitu, emak tetep bersyukur dapat rezeki nomplok ini. And yes, I am officially jadi emak beranak 3. Alhamdulillah... Hamil dan melahirkan di usia ini beneran drama. Kapan-kapan update deh soal ini. Sekarang mah mau nulis peralatan yang kudu dimiliki, terutama buat usia 35++ yang ttp harus menjaga kesehatan tulangnya. Wkkwk... btw ini preferensi pribadi ya, ga ada unsur tersembunyi. Ini dia "alat perang" yang wajib dipunyai selama punya bayi :  1. Pompa ASI       Ada banyak banget alat pumping yang beredar di pasaran saat ini. Menurut emak emang enak pumping elektrik coz kita ga capek pompa. Dulu pumping elektrik ini berasa mahal banget, sekarang mah murah dan banyak promo di toko online. IQ Baby aja bisa dijual Rp...

Thirty Nine vs Twenty One-Twenty Five

 Annyeong haseo....  Lagi pengen nulis review dua drama korea (drakor) yang lagi booming di awal 2022 ini yaitu Thirty-Nine dan Twenty Five-Twenty One. Kenapa pengen nulis dua drakor itu ketimbang yang lain? Selain karena lagi hits di bulan Maret 2022, kisahnya relate banget ama kehidupan saya.  First of all, ini opini pribadi yah. Jadi maaf kalo beda dengan rasa yang Anda rasakan. Hihiihhii 1. Thirty Nine Drakor ini bercerita tentang persahabatan tiga wanita berusia 39 tahun (nah langsung relate kan ama usianya). Kepala klinik kecantikan, Cha Mi-Jo (Son Ye-Jin); guru akting Jeong Chan-young (Jeon-Mi Do); serta Jang Jo-Hee (Kim Ji-Hyun). Secara ringkas, Cha Mi-Jo punya krisis kepercayaan diri karena meski dibesarkan di keluarga kaya dan lulus sebagai dokter kecantikan serta punya klinik sendirid di Gangnam, ternyata dia adalah orang anak yatim. Ibunya mendekam di penjara karena melakukan 7 penipuan. Kondisi itu membuat kisah cinta ikutan rumit karena ayah kekasihnya, Kim ...

Yey! Akhirnya Ke Bioskop

Slalu ada yang pertama kali atas sesuatu dan buat kami itu adalah nonton bioskop.  Awalnya rempong karena papski tetiba ada acara penting, sedangkan saya sebagai emak yang baik hati enggan untuk ingkar janji.  Jadinyalah sok pede dan gagah berani berangkat ke bioskop bertiga LEBIH AWAL 1 jam sebelumnya. Dan ternyata di depan bioskop sudah banyak jojoba dan pasangan muda mudi, keluarga satu anak udah siap masuk ke dalam bioskop.  Emaknya jadi mikir, jelasnya gaz bakal dapat kursi kalo ngikutin cara konvensional alias antre di ticketing. Meski bukan cewek gaul, sebagai emak tetap harus update teknologi terbaru yeeekaan...!!  Jadi sembari menunggu bioskop buka, saya login ke pembelian tiket online. Tap tap tap... Done! Udah dpt dua tiket di tangan.  Nungguin pintu teater 4 dibuka Pas bioskop dibuka, yang lain udah pada buru-buru naik ke eskalator. Sedangkan saya? Masih membujuk anak-anak supaya ga ngabisin koin di Transmart. Bukannya pelit, udah beli tiket ini!!! U...

Uang Tunai Hilang, Onde-onde Melayang

Kehidupan manusia di era digital sangat dimanjakan. Ada smartphone, smarthome, sampe udah ada konsep smartcity. Begitu juga kehidupan sehari-hari banyak teknologi memudahkan manusia. Salah satunya uang digital.  Saat ini, saya termasuk pengguna aktif uang digital. Kemana-mana ga pernah bawa uang cash banyak... Secukupnya aja. Biasanya Rp50 ribu. Paling banyak Rp100 ribu. Buat beli bensin atau sekedar jaga-jaga ban bocor/kempes. Kalo ga ada insiden di atas, bisa berhari-hari ngendon di dompet. Kartu debet aneka bank.  Ada kartu vaksin juga. Wkwkkw Lah gimana enggak? Belanja di minimarket, gesek kartu debet. Lewat tol, pake e-money. Beli pulsa, bayar tagihan, BPJS, langganan internet, tinggal tutul-tutul aplikasi keuangan di hape. Belanja makanan tinggal scan barcode hape. Hmm apalagi yah... Banyak deh.  Uang digital emang membantu banget sih buat saya. Karena ga harus bawa uang yang banyak. Otomatis di dompet cuma berisi KTP, SIM, STNK, dan kartu ATM. Wkwkkwkw... Gak enakn...

Catatan Sekolah Daring ala Indonesia

Sekolah daring tahun ajaran 2021/2022 dimulai lagi. Masih belum banyak kontroversi yang muncul di tahun kedua pembelajaran daring ini.   Tapi tahun ini saya yang juga jadi guru SD dadakan karena pandemi tak kunjung selesai. Memang pengalaman saya masih seupil perihal sekolah daring ini. Tapi dari beberapa hari ikut MPLS (Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah) dan pengalaman sekolah daring dari sejumlah kawan, ada beberapa catatan yang ingin saya bagikan disini : 1. Pendidik Memang kalo sekolah negeri, gurunya bisa santai selama sekolah daring. Itu yang diceritakan emak-emak tetangga saya yang  'lebih senior' perihal sekolah daring.  Kasih tugas lewat WAG trus abis itu tinggal nungguin foto-foto anak-anak yang diajari sama ibunya/ayahnya sendiri. Entah  mengerjakan sendiri atau dibuatin ayah/ibunya, setelah itu beri nilai.  Suami nyeletuk, ngapain daftar sekolah mahal kalau belajar daring diajarin mama. Cukup belikan seragam sendiri, buku paket dan ajari sendir...

Menjelang 40 Tahun

Dalam beberapa tahun ke depan, aku akan berusia kepala empat alias 40 tahun. Tapi galaunya udah dimulai dari sekarang.  Di sejumlah momen, kita tentu menyadari rencana Tuhan lebih baik dari rencana manusia. Sebaik-baiknya rencana manusia, rencana Allah SWT yang terealisasi. Itu sudah kunci hidup. Tinggal kita ikhlas menjalaninya. Kok masih ada galaunya? Mbuuh...mungkin ini yang disebut manusiawi.  Entah kenapa, soal usia menjadi pemikiran. Entah kenapa, tiba-tiba takut ketika tidak punya "sangu" banyak. Apalah saya yang bukan lulusan pondok pesantren, baru khatam Alquran di usia segini. Hikss...  Galau juga apakah cara mendidik anak sudah betul. Masih belum bertanya di level "benarkah cara mendidik anakku?". Aaargghh... Menulis kutipan itu aja udah mendadak insecure .  Soal pekerjaan pun kepikiran. Awalnya, jalan menjadi jurnalis adalah pilihan hidup yang akan kujalani sampai tua nanti. Pada kenyataannya, aku memilih untuk menepi. Berhenti.  Saat profesi yang ba...

Drakor True Beauty : Jejak Masa Lalu

Ada sebuah adagium, kecantikan dari dalam lebih penting ketimbang kecantikan luar (fisik). Tapi konon yang suka ngomong inner beauty   lebih unggul daripada kecantikan fisik cuma orang jelek. Benarkah? Drama Korea berjudul "True Beauty" lagi trending sejak 9 Desember 2020 dan kira-kira hingga akhir Januari ini. Tidak lain karena drakor ini merupakan adaptasi dari webtoon populer dengan judul sama karangan Yaongyi. Jujur, aku gak pernah baca webtoon, apalagi dengan judul tersebut.  Tapi aku merasa punya keterkaitan dengan karakter dan kisah yang dialami oleh Kim Ju-Kyung (diperankan oleh Moon Ga Young). Apalagi kalau bukan bullying  atau perisakan teman sekolah. Dan seperti halnya Ju-Kyung, aku juga tidak berani menceritakan perisakan ini kepada orang tua atau mengeluhkannya kepada orang lain. Alasannya klise : takut dianggap cengeng.  Kalau kisah perisakan Ju-Kyung, dilakukan oleh segerombol anak perempuan populer yang dibiarkan oleh pihak sekolah. Kalau aku gak samp...

Daya Khayal Melampaui Bumi

Kadang aku merasa gak banyak orang yang bisa memahi pemikiranku atau cerita yang aku sampaikan. Kebanyakan menjawab, "Kamu berlebihan," atau kadang ada yang bilang, "Alay,". Entahlah. Pada suatu ketika aku pernah bercerita mengenai kamarku pada saudaraku. "Aku memasang tirai manik-manik yang mana cahaya berpendar di malam hari. Pun bintang-bintang yang selalu bercahaya di langit-langit kamarku. Dan di pagi hari, cahaya matahari selalu membuatku terbangun dng kehangatannya yang menerobos di antara tirai jendela kamar. Kadang aku duduk di pojok kamar sembari membaca novelku dan dengerin lagu pake headset di telinga. Lagu romantis," kataku. Pada saat dia berkunjung, aku tau dia kecewa. Dalam bisu, dia mencecar kamarku biasa aja. Tak ada yang istimewa. Tak ada cahaya bintang, atau manik-manik dng cahaya berpendar. Dan sejak itu tak pernah datang menjenguk kamarku lagi. (Ya terang aja kamu datangnya di siang hari, aku menggerutu). Pernah juga ketika di Jogja. A...

Cerita Indah Sore Ini

Perihal indahnya sedekah, sudah banyak yang membahasnya. Jadi aku cuma ingin bercerita betapa lucunya sedekah hari ini. Bukan bermaksud pamer tapi semata-mata ingin tahu jawaban atas peristiwa hari ini. Maka begini kronologinya. Sama seperti tahun lalu, jualan beras zakat online tetap kujalankan. Aslinya telat banget akibat terlalu patuh sama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi Covid-19, yang membatasi gerak kita di areal publik. Tapi setelah PSBB amburadul, maka aku nekat jualan meski ada keputusan memperpanjang PSBB. Singkat kata, ada kastamer yang membeli beras zakat untuk disedekahkan. Lucunya, saat ditransfer ternyata dia salah rekening dan amblas lah duit ratusan ribu rupiah kepada penerima yang entah siapa. Duh sedih banget kan ya... ( jiwa missqueen ku menangis ). Tapi ternyata si kastamer ini memang dermawan. Dia kembali transfer uang ke rekening aku. Kali ini betul. Alhamdulillah. Kesalahan kedua, aku gak konfirm kemana pengirimannya. Biasa. So...

Vickynisasi ala Jokowi

Vicky Prasetyo (Sumber : merdeka.com) Ramai masalah perbedaan makna kata membuatku teringat pada memori masa SMA (cieee..). Momen ketika pertama kali pindah ke Surabaya dari Bogor. Pindah ke Surabaya, sempet takut gak ngerti. Maklum, saat di Bekasi diajak ngobrol Bahasa Indonesia, logat betawi dan sedikit bahasa Sunda. Pindah ke Bogor, duh tambah lieur dengan dialek tetangga. Di rumah pun lebih banyak berbahasa Indonesia, kalo pun kromo inggil paling tahunya "Bapak Sare", "Bapak dahar", "Bapak Siram" daon  semacamnya. Saat pindah ke Surabaya, ibu meyakinkan tidak ada bahasa aneh-aneh. Arek Suroboyo asik-asik, cuma seneng ngomong kurang apik. Misuh, kata ibu. Maka saat bersekolah, ya udah masuk sesantai mungkin. Sampe pada akhirnya ada teman sekelas, menyebut diriku "gatel". Refleks aku bilang aku gak gatel kok, ga ada yang kegigit. Lah kok koncoku nambahi kata C*k sambil tertawa. Loh loh loh onok opo iki kok aku tiba-tiba dipisuhi dan...

Makanan Enak vs Makanan Mahal

Hari ini sungguh hari yang benar-benar takkan terlupakan. Setelah sekian lama cuma dengar dan membaca cerita soal makanan yang ada hewan-hewan dari orang lain, maka hal itu beneran terjadi pada aku. Dan yang bikin jengkel adalah hewan yang "nyelip" di makanan aku adalah kecoa. Beneran!!! Setelah sekian lama gak pernah makan di pinggir jalan (PKL) pasca tumbang akibat typhus 2009 lalu, hari ini kok pengen mampir ke warung nasi belakang Gedung Juang 45. Kepengen makan ikan pe sambelan dan dikasih lodeh tewel. Entah kenapa hati ini gak enak. Mungkin karena makan di warung PKL. Tapi aku meyakinkan diri tempatnya bersih (saat datang, pegawainya lagi ngepel). . Tapi hati tetap gak enak gitu. Pas aku perhatikan ada bentuk aneh di atas nasiku, dan pas kubalik ternyata beneran. Jinggaaaaattt... Langsung muntah. Badan merinding. Kepala berat. Langsung minggat, gak sempat nyemprot ke abang penjualnya. Naik motor. Berhenti. Dan nangis. Ho oh..nangis setengah jam di pinggir ja...

Amankah Donor Darah Saat Wabah Covid19 ?

Ada satu pertanyaan yang hingga saat ini menggelitik dan memicu saya menulis pengalaman pribadi di blog lagi. Pertanyaannya? Aman gak sih donor darah saat wabah Covid19 ? Sempat terhenyak sejenak karena kaget mendapatkan pertanyaan itu. Apalagi yang bertanya juga relawan donor darah. Tapi tak lama kemudian saya tersadar, situasi dan kondisi wabah semacam ini memang membuat banyak orang takut. Banyak pula yang cuek bebek. Relawan aja banyak yang maju mundur untuk berbuat kebaikan. Berkumpul di RSI Darus Syifa' Benowo Termasuk ketika ingin donor darah. Memang sempat ada hinggap khawatir tapi karena memang darurat ya bekalnya cuma  bismillahirrahmanirrahim.  Apalagi kalau ada yang membutuhkan pertolongan darah dan kita mampu, kan gak mungkin kita abaikan begitu saja. Sekedar kilas balik, terakhir kali donor darah itu sekitar dua tahunan lalu. Dan awal 2020 ini harus donor darah di tengah wabah, karena keponakan membutuhkan darah A+ akibat sakit pembengkakkan jantung. K...

Museum BI, Emas di Tengah Kota Tua

Di tengah padatnya mal Jembatan Merah Plaza dan terminal bayangan di sekitarnya, plus Taman Jayengrono yang begitu memikat hati dengan gemerlap lampunya, ada emas yang tersembunyi. Bukan emas beneran, apalagi mas-mas ganteng. Wkwkwkwk... Yang aku maksud adalah Museum Bank Indonesia yang berada di Jalan Garuda no. 1. Untuk menuju kesana, tinggal mencari angkutan kota (angkot) yang menuju ke JMP. Agak capek karena harus ganti-ganti angkot sebelum akhirnya tiba di JMP. Kalau mau naik bus, lebih mudah. Dari Terminal Bungurasih, cari jurusan menuju ke JMP duduk manis, sampeee deeeh . Meski sudah diresmikan sejak 27 Januari 2012, aku baru menginjakkan kaki ke museum itu pada Rabu 11 Maret 2020. Itu pun karena ada kepentingan peliputan kegiatan sebuah lembaga. Pake acara nyasar pula.   Oh my good!!!  Lalu selama 8 tahun kemana aja sampe museum sekeren itu lewat dari pandangan? Alasannya banyak sih...utamanya karena gak pernah ditugaskan liputan kesana. Selebihnya ya agak k...

Saat Virus Corona Menyerang, Baru Terasa Jasa Guru

Hampir di seluruh belahan dunia membahas mahluk satu ini. Yang muncul entah dari mana. Yang tiba-tiba menghebohkan dunia dan menyebabkan pandemik global. Virus Corona. Ibuku adalah seorang guru TK  Tapi gak mau bahas soal virus corona sih, karena saya bukan ahlinya dan takutnya malah nanti menimbulkan salah paham. Yang saya pahami, virus corona cukup merepotkan karena pekerjaan terlantar semua. Mau pergi kemana-mana juga dibatasi (Surabaya menetapkan #stayathome #workathome ). Daaaaaaaaaaaaaaaaaan... jreng jreng jreng kebijakan agar anak-anak sekolah di rumah. Dari pantauan sekilas saya, ada beberapa teman baik yang bekerja maupun ibu rumah tangga, yang pusing dengan kebijakan ini.Yang bekerja, jadi bingung gimana mau mengajari anak di rumah karena masih tetap ngantor seperti biasa. Yang dititipi (entah eyang ataupun TPA or tetangga yang dititipi) juga belum tentu paham soal tugas anak-anak. (Apalagi tetangga yang dititipi biasanya juga punya anak yang sama-sama dikasih tug...

Tempat Main Baru Surabaya: Masjid EduPark

Beberapa sudut Masjid Al Akbar Surabaya (MAS) ternyata mengalami perubahan. Selain lokasi parkir motor yang lebih tertata di utara masjid, eng..ing...eng... ada sudut manis nan rindang di masjid ini. Halaman Masjid Al Akbar Surabaya yang panas beud ahhahahaa (Nani Mashita) Setelah dilihat secara seksama, ternyata MAS memiliki taman cantik yang diberi nama Al Akbar EduPark. Wah...menarik nih, bisa jadi jujugan kalau Ayun ikutan ke Kanwil Kemenag Surabaya. Ketimbang dia ngaplo di kantor orang, dan mamanya juga gak bingung harus kasih HP biar Ayun gak nangis. Ha ha ha ha ha... Masuk areal Masjid Al Akbar Surabaya (Nani Mashita)  Maka pada suatu ketika, setelah bisa kabur dari rapat di kantor tersebut Ayun kesana. Awalnya dia merasa penasaran kenapa masuk ke areal masjid. Pertanyaan pun bertubi-tubi dia sampaikan, "Ma kan belum ada  allahu akbar allahu akbar  (dia masih belum bisa menyebut adzan)." Sempat mengaku lelah karena berjalan cukup jauh dari kawasan depa...