Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opini

Pilih Bekerja atau Ibu Rumah Tangga?

Sebuah pilihan berat akhirnya aku ambil keputusan berat : RESIGN!!! Pilihan dibuat dengan tangis dan derai air mata di sebuah warung kopi di kawasan Surabaya Barat. Dengan tersedu-sedu, lelah dengan tekanan pekerjaan, kuliah dan tangisan anak-anak, aku mantapkan hati untuk berhenti jadi jurnalis. Pekerjaan impian yang selalu aku banggakan. Dengan segala daya upaya, aku meraih pekerjaan tersebut, dengan tangisan, menahan sedu, menahan lelah dan menekan segala keinginan, aku sukses menjalani profesi wartawan selama 15 tahun terakhir.   Apa prestasiku? Hmmm...memang tidak banyak piala atau sertifikat yang bisa aku dapatkan. Tapi di profesi ini, setidaknya aku puas bisa menyampaikan kepedihan, kesedihan dan ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi kehidupannya yang semakin ditekan oleh keadaan. Pun pemerintah juga seolah tidak pernah ada di dalam kehidupan masyarakatnya. Guyonannya, ada atau tidak ada pemerintah, toh rakyat Indonesia bisa tetap makan, hidup dan mandiri. D...

Anang-Ashanty dan UU Penyiaran yang terabaikan

Sebuah kabar bahagia datang dari pasangan Anang Hermansyah-Ashanty. Minggu (14/12/2014), Ashantyh melahirkan putri pertamanya. Sayangnya momen bahagia itu ternodai dengan disiarkannya proses persalinan caesar secara live di sebuah televisi swasta. Honestly, saya tidak lihat acara tersebut. Saya sedang bekerja sembari momong anak. Uhmmm...kalaupun luang saya males nonton karena pasangan ini lama kelamaan basi dengan segala pernak-pernik kehidupannya yang terlalu diumbar. Okelah waktu Anang diselingkuhi Krisdayanti itu lumayan tragis. Yaaa dimaklumi deh ketika dia menikah dengan Ashanty disiarkan secara langsung oleh RCTI. Taaaapiiii...ketika melahirkan juga harus disiarkan tivi, mendadak ingin muntah. Dan yang lebih bikin jengkel, Anang sekarang jadi anggota DPR RI!! Heloooo.....plis deh jadi sedikit cerdas dan malu gitu. Baca-baca dikitlah mengenai UU Penyiaran no 32 tahun 2002. Disana jelas disebutkan bahwa, “Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pema...

Logika 'Gebyah Uyah' Susi Pudjiastutik

Sering kali, kita mendapat nasehat dari orang tua untuk 'gebyah-uyah' dalam menghadapi sebuah masalh. Khusus untuk Muslim, ada perintah Allah SWT yang memerintahkan agar kita meneliti setiap kabar yang sampai pada kita sehingga tidak memyebabkan musibah pada orang lain. Peringatan ini meminta kita jangan tergesa-gesa menuduh orang lain, apalagi yang berujung pada kerusakan atau kekerasan. Dan gelisah mendadak muncul setelah Presiden Joko Widodo melantik Susi Pudjiastutik sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja. Banyak pro dan kontra tapi komentar "Lebih baik bertato dan merokok tapi tidak korupsi, ketimbang BERJILBAB tapi korupsi" bikin saya menulis ini. Komentar "gebyah uyah" semacam ini tentu saja semacam kalap dan membabi buta menyamaratakan perempuan berjilbab sebagai koruptor. Seolah-olah, penampilan relijius hanya kedok untuk melakukan aktivitas memalukan. Yang bikin pilu, komen itu juga diamini oleh beberapa perempuan berjilbab la...

Main di Sosmed Mulai Gak Asyik

Media sosial (medsos) semakin dilirik untuk dijadikan ‘alat kampanye’ bagi tokoh, politisi, atau parpol yang ingin memenangkan pemilihan kepala daerah/pemilihan legislatif. Termasuk juga organisasi sosial atau korporasi yang sedang mengkampanyekan programnya. Dan pada akhirnya, ‘main’ di medsos hari-hari ini udah gak asyik lagi. Apalagi kalo bukan gara-gara perhelatan pemilihan presiden tahun ini. Menampilkan dua jago yaitu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa dengan sabuk biru melawan Joko Widodo – Jusuf Kalla dengan sabuk merah. Jreng-jreng-jreng... Ruweeettt benerrrr yeee kalo baca status-status medsos, terutama di fesbuk maupun twitter – sayah punya akun di dua medsos ini. Pendukungnya saling menghujat dan menghujam serta mengumbar kata-kata cacian dan makin begitu lancar dan tanpa polisi tidur. Blung-blung-blung….nyeplos aja seenaknya mengumbar aib. Biasanya di awalnya ada tulisan, “Gw cuma sharing aja, sisanya silakan nilai sendiri.” Kalau ditegur, marah-marah dan ujung-ujungn...

Nyapres, Jokowi (Tidak) Jadi Media Darling?

Di depan Rumah Makam Si Pitung, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberikan pengumuman PENTING. Dia mengaku mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan siap bertarung dalam pilpres yang tinggal menghitung bulan. Kesiapan Jokowi itu pun ditutup dengan cara yang sangat heroik, atau bahkan dramatis: mencium bendera merah putih yang ada di belakangnya. Ini link Bak orang yang terkena bisul, pengumuman resmi Jokowi – yang disusul dengan cuitan dari twitter DPP PDIP membenarkan pencapresan tersebut --- bisul itu langsung pecah. Penderita bisul itu tentulah pendukung berat Jokowi. Tidak hanya senyum, tawa bahkan ucapan “Alhamdulillah” jadi kalimat pamungkas untuk menunjukkan betapa pencapresan Jokowi sangat ditunggu-tunggu. Banyak pro-kontra yang terjadi. Bahkan sebagian besar masyarakat Jakarta tidak setuju dengan langkah Jokowi yang memutuskan untuk nyapres. Peneliti LIPI, Siti Zuhro, bahkan berani menyebut hanya 30 persen pub...

YKS dan Penonton Kita

Ada ibu2 cerita, ada satu waktu sengaja. Datang ke YKS. Harapannya dpt duit yg dibagi2 itu. Dia terkejut krn pihak televisi menyita segala makanan/minuman. Penonton disuruh menari full tnp makan/minum. Klo ga semangat, digeser ke pinggir panggung. Anaknya pun terdesak2 krn penonton rebutan utk tampil di tivi. "Artisnya enak makan-minum. Aku dan anakku sampek capek.Ah gak mau lagi ke YKS, bikin soro (susah)," katanya. Sepenggal kisah seorang perempuan paruh baya dengan rambut diikat kuda pada sore hari di sebuah restoran seafood Surabaya. Tubuhnya dempal. Senyumnya selalu merekah, menandakan orang yang selalu bahagia. Kisah ini saya posting di laman Facebook saya dan menuai banyak komentar. Ada yang mengaku terkejut kalau prosedur nonton televisi seperti itu, tapi kebanyakan memang tidak terlalu suka dengan program acara tersebut dengan cara mereka masing-masing. Secara pribadi, awalnya saya mengacungi jempol bagi tim kreatif TransTV yang emang terkenal dengan ide-ide sega...

Menikah Itu Nggak Bisa Nyontek

Kisruh pernikahan Enji-Ayu Tingting yang diikuti dengan "numpang ngetopnya" sejumlah perempuan makin meruncing. Mereka - satu di antaranya - bahkan mengaku berhubungan secara hati dan fisik dengan anak dari mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri. Beud.... Kejamnya dunia entertainmen dan artis di luar sana. Hmmm..saya sih gak mau ikutan komen soal mereka. Saya tidak mau terjebak dalam kisruh dan kehebohan infotainmen soal kisah Ayu. Cuma berusaha mengambil makna dari keributan mereka yang gak jelas ujung-pangkalnya itu. Wong pasutri lagi ribut dikomporin infotainmen...hasilnya yang nonton ikutan ribet. Bukan ribet siapa yang salah atau benar. Tapi jadinya heran : ini apa-apaan sih. Yang ada saya berkomentar mereka tidak menghargai pernikahan dan seenaknya kayak gak hidup dengan orang lain aja. Hihihiih...gak emosi sih nulisnya. Setelah nulis gitu juga jadi mikir...apa bisa saya untuk tidak berbuat seperti mereka? Bisa akur terus? Bisa mencapai mimpi bersama ? Wallahualam.... T...

Chairul Tanjung dan SBY "Dikerjai" Angle

Foto ini seolah jadi pemuas dahaga masyarakat yang tidak puas dengan kepemimpinan SBY Munculnya foto Chairul Tanjung (seolah-olah) menunjuk muka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat gempar media sosial, terutama Facebook. Dalam foto tersebut, terlihat bila CT tengah berdiri di tengah ruangan dan menunjuk SBY yang saat itu didampingi oleh Ani Yudhoyono dan Seskab Sudi Silalahi plus beberapa paspampres. Foto ini jadi gempar karena tampang tokoh-tokoh ini terlihat sangat tegang sehingga ramai-ramai diunggah ke media online. Dalam berita tersebut juga ditulis sebuah narasi yang sangat ‘menggelora’ seolah-olah CT berhasil memenuhi hasrat sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin protes keras terhadap gaya kepemimpinan SBY selama ini. Pada kenyataannya, tidak. Foto itu diunggah ke sebuah akun FB milik wartawan senior. Beliau adalah sosok yang sangat cerdas dan cerdik dalam melihat sebuah isu atau peristiwa. Dia juga ‘nakal’ dalam mengelola isu tersebut agar bisa ...

Guru Honorer, Pahlawan yang Minim ‘Harga’

MENJADI seorang guru bukanlah cita-cita yang main-main, apalagi untuk ditertawakan.   Guru merupakan salah satu profesi mulia karena lewat tangan pahlawan tanpa tanda jasa inilah, generasi muda Indonesia tercetak. Zaman dahulu, figur Oemar Bakri a la Iwan Fals, digambarkan sebagai sosok yang bersahaja dengan kopiah di kepalanya. Dia akan mengayuh sepeda kumbang dengan tas buaya yang disampirkan di salah satu bagian sepedanya. Begitu menghanyutkan dan damai melihat sosok seperti itu. guru honorer hanya dibayar Rp 300 ribu per bulan (google)   Sekarang, zaman sudah berbeda. Pemerintah sudah mengeluarkan sebuah kebijakan yang langsung mengatrol kesejahteraan para guru, terutama yang berstatus pegawai negeri sipil. Di satu sisi, kita bersyukur bahwa m enjadi guru saat ini bukanlah pilihan ‘terpaksa’ bagi lulusan yang tidak mendapatkan pekerjaan . Namun di sisi lain, guru bersahaja yang digambarkan di atas, nyaris tidak pernah muncul lagi. Saat ini, banyak yang memil...

Menyulap Madura Menjadi Lumbung Tebu

IBARAT kembang desa, Madura kini menjadi rebutan untuk dikembangkan sebagai wilayah industri tebu baru di Jawa Timur. Namun, mengolah tebu di lahan Madura tidak semudah pengerjaannya di lapangan, terutama yang berkaitan dengan kultur masyarakat.  Awalnya, optimisme disebar dengan rencana pengembangan lahan tebu ini. Pasalnya, Madura memiliki keuntungan tersendiri terkait kondisi lingkungan yang memadai, ditambah sinar matahari, kecepatan angin, suhu, kelembaban udara, air, dan kesesuaian lahannya yang mendukung budidaya tebu secara baik. Dengan ‘kekayaan’ sinar matahari, tebu Madura memang berpotensi memiliki kualitas terbaik. Kementerian Pertanian juga ikut mendorong perluasan areal tebu di Madura hingga 4.000 hektar dengan menyiapkan dana Rp 89 miliar. Dana sebesar ini   untuk membantu bibit, traktor, dan tenaga pendamping. Hingga saat ini, lahan tebu yang sudah dikembangkan di Madura sekitar 1.300 hektar. Keberadaan Jembatan Suramadu menjadi salah satu faktor op...