Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Yey! Akhirnya Ke Bioskop

Slalu ada yang pertama kali atas sesuatu dan buat kami itu adalah nonton bioskop.  Awalnya rempong karena papski tetiba ada acara penting, sedangkan saya sebagai emak yang baik hati enggan untuk ingkar janji.  Jadinyalah sok pede dan gagah berani berangkat ke bioskop bertiga LEBIH AWAL 1 jam sebelumnya. Dan ternyata di depan bioskop sudah banyak jojoba dan pasangan muda mudi, keluarga satu anak udah siap masuk ke dalam bioskop.  Emaknya jadi mikir, jelasnya gaz bakal dapat kursi kalo ngikutin cara konvensional alias antre di ticketing. Meski bukan cewek gaul, sebagai emak tetap harus update teknologi terbaru yeeekaan...!!  Jadi sembari menunggu bioskop buka, saya login ke pembelian tiket online. Tap tap tap... Done! Udah dpt dua tiket di tangan.  Nungguin pintu teater 4 dibuka Pas bioskop dibuka, yang lain udah pada buru-buru naik ke eskalator. Sedangkan saya? Masih membujuk anak-anak supaya ga ngabisin koin di Transmart. Bukannya pelit, udah beli tiket ini!!! Untung aja akhirnya anak-

Uang Tunai Hilang, Onde-onde Melayang

Kehidupan manusia di era digital sangat dimanjakan. Ada smartphone, smarthome, sampe udah ada konsep smartcity. Begitu juga kehidupan sehari-hari banyak teknologi memudahkan manusia. Salah satunya uang digital.  Saat ini, saya termasuk pengguna aktif uang digital. Kemana-mana ga pernah bawa uang cash banyak... Secukupnya aja. Biasanya Rp50 ribu. Paling banyak Rp100 ribu. Buat beli bensin atau sekedar jaga-jaga ban bocor/kempes. Kalo ga ada insiden di atas, bisa berhari-hari ngendon di dompet. Kartu debet aneka bank.  Ada kartu vaksin juga. Wkwkkw Lah gimana enggak? Belanja di minimarket, gesek kartu debet. Lewat tol, pake e-money. Beli pulsa, bayar tagihan, BPJS, langganan internet, tinggal tutul-tutul aplikasi keuangan di hape. Belanja makanan tinggal scan barcode hape. Hmm apalagi yah... Banyak deh.  Uang digital emang membantu banget sih buat saya. Karena ga harus bawa uang yang banyak. Otomatis di dompet cuma berisi KTP, SIM, STNK, dan kartu ATM. Wkwkkwkw... Gak enaknya, masih belu

Catatan Sekolah Daring ala Indonesia

Sekolah daring tahun ajaran 2021/2022 dimulai lagi. Masih belum banyak kontroversi yang muncul di tahun kedua pembelajaran daring ini.   Tapi tahun ini saya yang juga jadi guru SD dadakan karena pandemi tak kunjung selesai. Memang pengalaman saya masih seupil perihal sekolah daring ini. Tapi dari beberapa hari ikut MPLS (Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah) dan pengalaman sekolah daring dari sejumlah kawan, ada beberapa catatan yang ingin saya bagikan disini : 1. Pendidik Memang kalo sekolah negeri, gurunya bisa santai selama sekolah daring. Itu yang diceritakan emak-emak tetangga saya yang  'lebih senior' perihal sekolah daring.  Kasih tugas lewat WAG trus abis itu tinggal nungguin foto-foto anak-anak yang diajari sama ibunya/ayahnya sendiri. Entah  mengerjakan sendiri atau dibuatin ayah/ibunya, setelah itu beri nilai.  Suami nyeletuk, ngapain daftar sekolah mahal kalau belajar daring diajarin mama. Cukup belikan seragam sendiri, buku paket dan ajari sendiri. Ndak usah bayar se

Menjelang 40 Tahun

Dalam beberapa tahun ke depan, aku akan berusia kepala empat alias 40 tahun. Tapi galaunya udah dimulai dari sekarang.  Di sejumlah momen, kita tentu menyadari rencana Tuhan lebih baik dari rencana manusia. Sebaik-baiknya rencana manusia, rencana Allah SWT yang terealisasi. Itu sudah kunci hidup. Tinggal kita ikhlas menjalaninya. Kok masih ada galaunya? Mbuuh...mungkin ini yang disebut manusiawi.  Entah kenapa, soal usia menjadi pemikiran. Entah kenapa, tiba-tiba takut ketika tidak punya "sangu" banyak. Apalah saya yang bukan lulusan pondok pesantren, baru khatam Alquran di usia segini. Hikss...  Galau juga apakah cara mendidik anak sudah betul. Masih belum bertanya di level "benarkah cara mendidik anakku?". Aaargghh... Menulis kutipan itu aja udah mendadak insecure .  Soal pekerjaan pun kepikiran. Awalnya, jalan menjadi jurnalis adalah pilihan hidup yang akan kujalani sampai tua nanti. Pada kenyataannya, aku memilih untuk menepi. Berhenti.  Saat profesi yang baru k

Drakor True Beauty : Jejak Masa Lalu

Ada sebuah adagium, kecantikan dari dalam lebih penting ketimbang kecantikan luar (fisik). Tapi konon yang suka ngomong inner beauty   lebih unggul daripada kecantikan fisik cuma orang jelek. Benarkah? Drama Korea berjudul "True Beauty" lagi trending sejak 9 Desember 2020 dan kira-kira hingga akhir Januari ini. Tidak lain karena drakor ini merupakan adaptasi dari webtoon populer dengan judul sama karangan Yaongyi. Jujur, aku gak pernah baca webtoon, apalagi dengan judul tersebut.  Tapi aku merasa punya keterkaitan dengan karakter dan kisah yang dialami oleh Kim Ju-Kyung (diperankan oleh Moon Ga Young). Apalagi kalau bukan bullying  atau perisakan teman sekolah. Dan seperti halnya Ju-Kyung, aku juga tidak berani menceritakan perisakan ini kepada orang tua atau mengeluhkannya kepada orang lain. Alasannya klise : takut dianggap cengeng.  Kalau kisah perisakan Ju-Kyung, dilakukan oleh segerombol anak perempuan populer yang dibiarkan oleh pihak sekolah. Kalau aku gak sampai dirisa

Daya Khayal Melampaui Bumi

Kadang aku merasa gak banyak orang yang bisa memahi pemikiranku atau cerita yang aku sampaikan. Kebanyakan menjawab, "Kamu berlebihan," atau kadang ada yang bilang, "Alay,". Entahlah. Pada suatu ketika aku pernah bercerita mengenai kamarku pada saudaraku. "Aku memasang tirai manik-manik yang mana cahaya berpendar di malam hari. Pun bintang-bintang yang selalu bercahaya di langit-langit kamarku. Dan di pagi hari, cahaya matahari selalu membuatku terbangun dng kehangatannya yang menerobos di antara tirai jendela kamar. Kadang aku duduk di pojok kamar sembari membaca novelku dan dengerin lagu pake headset di telinga. Lagu romantis," kataku. Pada saat dia berkunjung, aku tau dia kecewa. Dalam bisu, dia mencecar kamarku biasa aja. Tak ada yang istimewa. Tak ada cahaya bintang, atau manik-manik dng cahaya berpendar. Dan sejak itu tak pernah datang menjenguk kamarku lagi. (Ya terang aja kamu datangnya di siang hari, aku menggerutu). Pernah juga ketika di Jogja. A