Skip to main content

Posts

Daya Khayal Melampaui Bumi

Kadang aku merasa gak banyak orang yang bisa memahi pemikiranku atau cerita yang aku sampaikan. Kebanyakan menjawab, "Kamu berlebihan," atau kadang ada yang bilang, "Alay,". Entahlah. Pada suatu ketika aku pernah bercerita mengenai kamarku pada saudaraku. "Aku memasang tirai manik-manik yang mana cahaya berpendar di malam hari. Pun bintang-bintang yang selalu bercahaya di langit-langit kamarku. Dan di pagi hari, cahaya matahari selalu membuatku terbangun dng kehangatannya yang menerobos di antara tirai jendela kamar. Kadang aku duduk di pojok kamar sembari membaca novelku dan dengerin lagu pake headset di telinga. Lagu romantis," kataku. Pada saat dia berkunjung, aku tau dia kecewa. Dalam bisu, dia mencecar kamarku biasa aja. Tak ada yang istimewa. Tak ada cahaya bintang, atau manik-manik dng cahaya berpendar. Dan sejak itu tak pernah datang menjenguk kamarku lagi. (Ya terang aja kamu datangnya di siang hari, aku menggerutu). Pernah juga ketika di Jogja. A...

Cerita Indah Sore Ini

Perihal indahnya sedekah, sudah banyak yang membahasnya. Jadi aku cuma ingin bercerita betapa lucunya sedekah hari ini. Bukan bermaksud pamer tapi semata-mata ingin tahu jawaban atas peristiwa hari ini. Maka begini kronologinya. Sama seperti tahun lalu, jualan beras zakat online tetap kujalankan. Aslinya telat banget akibat terlalu patuh sama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi Covid-19, yang membatasi gerak kita di areal publik. Tapi setelah PSBB amburadul, maka aku nekat jualan meski ada keputusan memperpanjang PSBB. Singkat kata, ada kastamer yang membeli beras zakat untuk disedekahkan. Lucunya, saat ditransfer ternyata dia salah rekening dan amblas lah duit ratusan ribu rupiah kepada penerima yang entah siapa. Duh sedih banget kan ya... ( jiwa missqueen ku menangis ). Tapi ternyata si kastamer ini memang dermawan. Dia kembali transfer uang ke rekening aku. Kali ini betul. Alhamdulillah. Kesalahan kedua, aku gak konfirm kemana pengirimannya. Biasa. So...

Vickynisasi ala Jokowi

Vicky Prasetyo (Sumber : merdeka.com) Ramai masalah perbedaan makna kata membuatku teringat pada memori masa SMA (cieee..). Momen ketika pertama kali pindah ke Surabaya dari Bogor. Pindah ke Surabaya, sempet takut gak ngerti. Maklum, saat di Bekasi diajak ngobrol Bahasa Indonesia, logat betawi dan sedikit bahasa Sunda. Pindah ke Bogor, duh tambah lieur dengan dialek tetangga. Di rumah pun lebih banyak berbahasa Indonesia, kalo pun kromo inggil paling tahunya "Bapak Sare", "Bapak dahar", "Bapak Siram" daon  semacamnya. Saat pindah ke Surabaya, ibu meyakinkan tidak ada bahasa aneh-aneh. Arek Suroboyo asik-asik, cuma seneng ngomong kurang apik. Misuh, kata ibu. Maka saat bersekolah, ya udah masuk sesantai mungkin. Sampe pada akhirnya ada teman sekelas, menyebut diriku "gatel". Refleks aku bilang aku gak gatel kok, ga ada yang kegigit. Lah kok koncoku nambahi kata C*k sambil tertawa. Loh loh loh onok opo iki kok aku tiba-tiba dipisuhi dan...

Makanan Enak vs Makanan Mahal

Hari ini sungguh hari yang benar-benar takkan terlupakan. Setelah sekian lama cuma dengar dan membaca cerita soal makanan yang ada hewan-hewan dari orang lain, maka hal itu beneran terjadi pada aku. Dan yang bikin jengkel adalah hewan yang "nyelip" di makanan aku adalah kecoa. Beneran!!! Setelah sekian lama gak pernah makan di pinggir jalan (PKL) pasca tumbang akibat typhus 2009 lalu, hari ini kok pengen mampir ke warung nasi belakang Gedung Juang 45. Kepengen makan ikan pe sambelan dan dikasih lodeh tewel. Entah kenapa hati ini gak enak. Mungkin karena makan di warung PKL. Tapi aku meyakinkan diri tempatnya bersih (saat datang, pegawainya lagi ngepel). . Tapi hati tetap gak enak gitu. Pas aku perhatikan ada bentuk aneh di atas nasiku, dan pas kubalik ternyata beneran. Jinggaaaaattt... Langsung muntah. Badan merinding. Kepala berat. Langsung minggat, gak sempat nyemprot ke abang penjualnya. Naik motor. Berhenti. Dan nangis. Ho oh..nangis setengah jam di pinggir ja...

Amankah Donor Darah Saat Wabah Covid19 ?

Ada satu pertanyaan yang hingga saat ini menggelitik dan memicu saya menulis pengalaman pribadi di blog lagi. Pertanyaannya? Aman gak sih donor darah saat wabah Covid19 ? Sempat terhenyak sejenak karena kaget mendapatkan pertanyaan itu. Apalagi yang bertanya juga relawan donor darah. Tapi tak lama kemudian saya tersadar, situasi dan kondisi wabah semacam ini memang membuat banyak orang takut. Banyak pula yang cuek bebek. Relawan aja banyak yang maju mundur untuk berbuat kebaikan. Berkumpul di RSI Darus Syifa' Benowo Termasuk ketika ingin donor darah. Memang sempat ada hinggap khawatir tapi karena memang darurat ya bekalnya cuma  bismillahirrahmanirrahim.  Apalagi kalau ada yang membutuhkan pertolongan darah dan kita mampu, kan gak mungkin kita abaikan begitu saja. Sekedar kilas balik, terakhir kali donor darah itu sekitar dua tahunan lalu. Dan awal 2020 ini harus donor darah di tengah wabah, karena keponakan membutuhkan darah A+ akibat sakit pembengkakkan jantung. K...

Museum BI, Emas di Tengah Kota Tua

Di tengah padatnya mal Jembatan Merah Plaza dan terminal bayangan di sekitarnya, plus Taman Jayengrono yang begitu memikat hati dengan gemerlap lampunya, ada emas yang tersembunyi. Bukan emas beneran, apalagi mas-mas ganteng. Wkwkwkwk... Yang aku maksud adalah Museum Bank Indonesia yang berada di Jalan Garuda no. 1. Untuk menuju kesana, tinggal mencari angkutan kota (angkot) yang menuju ke JMP. Agak capek karena harus ganti-ganti angkot sebelum akhirnya tiba di JMP. Kalau mau naik bus, lebih mudah. Dari Terminal Bungurasih, cari jurusan menuju ke JMP duduk manis, sampeee deeeh . Meski sudah diresmikan sejak 27 Januari 2012, aku baru menginjakkan kaki ke museum itu pada Rabu 11 Maret 2020. Itu pun karena ada kepentingan peliputan kegiatan sebuah lembaga. Pake acara nyasar pula.   Oh my good!!!  Lalu selama 8 tahun kemana aja sampe museum sekeren itu lewat dari pandangan? Alasannya banyak sih...utamanya karena gak pernah ditugaskan liputan kesana. Selebihnya ya agak k...