Skip to main content

Posts

Ibu

“Assalamualaikum Ta…udah di kos?”, kata Ibu di seberang telepon. “Sudah, barusan datang,” kataku sembari merebahkan tubuh di atas kasur. “Trus…kapan pindah balik ke rumah,” kata beliau. “Iya…sedang beberes ini. Masih harus nyari kardus yang lebih besar lagi,” ucapku sedikit enggan. Lalu obrolan selanjutnya mulai mengalir. Mulai dari pekerjaanku, mantanku, sampe marah-marah karena aku yang selalu susah makan tepat waktu.   *** Ibu bukan sekedar pertanyaan, tapi desakan yang cenderung untuk memerintah. Ibu tahu, kalau terlalu keras memaksa, aku akan makin keras menolak. Secara pelan namun pasti, Ibu meminta untuk kembali ke rumah. Awalnya, berat karena tentu ada pertanyaan apa yang harus dikerjakan? Apa yang harus dilakukan kalau kembali ke rumah? Apa tidak membebani orang tua? Bagaimana pekerjaan yang sekarang?   Banyak ketakutan. Banyak keresahan. Sedih dan kecewa meninggalkan pekerjaan lama memang sempat menggelayut hati. Tapi mengabaika...

You Are What You Wear

http://www.gayahidup-lingkarberita.com/2012/09/you-are-what-you-wear.html    FEATURE GAYA HIDUP TERBARU  You are what you wear,.. Di antara segala macam strategi yang dilakukan pasangan Pilgub DKI Jakarta Jokowi dan Ahok, ada satu yang layak disebut khas. Yaitu penggunaan ‘seragam’ kotak-kotak.  Dalam dunia fashion, motif kemeja yang dipakai pasangan ini disebut fashion disaster atau bencana fashion! Desainer kondang jelas tidak melirik motif jenis itu untuk dikeluarkan pada 2012. Dalam Milan Fashion Week 2012, salah satu barometer fashion dunia, kemeja motif kotak-kotak tidak nongol. Valentino misalnya, merilis koleksi pria berupa suit lengkap dipadu sepatu sneakers. Begitu juga dengan desainer dunia lain yang mengabaikan motif kotak-kotak paduan merah bata, abu-abu dan putih itu. Alhasil, ketika pasangan Jokowi dan Ahok mengenakan kemeja kotak-kotak, mata publik fashion pun sempat terbelalak. Apalagi, Jokowi memadukannya dengan s...

Lontong Balap yang Menggelegar

Ahahayhayhay....agak menggelegar juga judulnya. Maaf sebesar-besarnya, soalnya saya tidak  bisa  tidak untuk menggambarkan betapa beruntungnya saya bisa mencicipi lezatnya makanan khas Surabaya yang disebut Lontong Balap. Langsung jatuh cinta ketika pertama kali menginjak Surabaya di tahun 1999. Eitss..aku asli Arek Suroboyo tapi baru benar-benar tinggal ketika pertengahan SMA karena ikut ortu yang kerja jadi PNS. Waktu itu, almarhum Ayah mengajak makan di daerah Kranggan untuk menghibur hatiku yang sedih karena merasa dipaksa pindah ke Surabaya. Awalnya merasa aneh ada nama makanan Lontong Balap....awal mengira kalau hal itu dikarenakan pedagangnya harus balapan dng Satpol PP, takut diobrak. Hahahah..... And it's heaven! Makanan ini benar-benar luar biasa enak. Curigaku, hal ini disebabkan oleh sambel petisnya yang juga wah-wah pedasnya. Meski begitu, sesendok sambel petis rasanya kurang....ya minimal dua sendok or tiga sendok lah. Nggobyosss! Kayaknya ini makna 'balap...

Lebaran Jadi 'Kuburan'

Lebaran..... Tiap Muslim yang mendengar satu kata tersebut pasti merinding, menitikkan air mata karena meral asa lahir jadi pribadi yang baru.Di sisi lain,umat Islam ada yang bersuka cita, bergembira ria menyambut kedatangan hari yang ditandai sebagai 1 Syawal. Perihal 1 Syawal, saya kira sudah banyak yang membahasnya dengan lebih ahli. Dari sudut ilmiah dan religius, sudah ada pakarnya. Saya hanya ingin menuliskan ulang, dalam sebuah diskusi singkat di media sosial twitter, kawan saya menyebutkan puisi 'Malam Lebaran' karya Sitor Situmorang. Puisi ini sangat singkat, hanya berisi satu baris kalimat : 'bulan di atas kuburan'. Tentu Sitor bukan seorang yang bodoh karena di malam Syawal, tidak akan ada bulan yang terlihat. Tapi, bisa jadi kalimat itu tidak untuk diartikan secara harfiah semata. Harus diselami. Tidak perlu susah-susah sebenarnya karena dari judul puisi dan baitnya pun, dengan mudah kita melihat realitas tiap jelang Lebaran di kehidupan masyarakat I...

Sajadah

Sajadah itu ada gambar masjid di atasnya Basah karena bulir air mata, jatuh bersama segudang kesedihan. Makin lama makin basah Suara-suara merapal gejolak.  Dimana Tuhan, dimana DIA? tanyamu. Katanya DIA ada dekat kita,dekat urat nadi leher kita. Kenapa Tuhan masih membuat sajadah ini basah karena tangis. Suara itu membaca puisi-puisi hujan, menuliskan rintik hujan dalam kaca-kaca yang berembun Menyanyikan kerinduan pada mendung yang bergulung tak tentu arah Lantas patah menanti hujan. Andai Sajadah diberi lengan, takkan menolak memeluk suara yang bertutur tanpa tentu. Tanpa henti. Tak terbendung bersama isak.   Sajadah masih tergelar di atas lantai, masih mendengar suara berpuisi yang makin lamat. Tapi bukan lagi puisi hujan. Mungkin tentang sembilu yang merobek pagi.  Sajadah itu masih basah. Suara itu bisu. Air tak lagi menetes.  Mungkin tengah merapal doa agar alam tetap memeluk keluh. Agar tetap mencari jalan. Bertemu Tuhan. 

Lelah

Tuhan, Maaf kalau hari ini aku mengeluh lagi kepada-Mu Karena ketika tengah lengah akan indah dunia, aku marah karena Kau menegur Tuhan, Maaf ya kalau misalnya aku ingin bilang lelah dan sedih dengan takdirMu Dan merasa beban ini makin berat Padahal harusnya aku bersyukur karena Engkau sayang padaku Maaf ya Tuhan

Dokter Asli Tapi Palsu

    KETIKA panitia Ujian Masuk Program Internasional (UMPI) menyerahkan 52 peserta UMPI ke Polres Sleman, seluruh pihak terbelalak. Dekan FK UGM Dr. Rr. Titi Savitri shock dan Rektor UGM Prof. Pratikno kebakaran jenggot (tapi dia tak punya jenggot ^_^) karena kasus ini terungkap di awal masa kepemimpinannya. Dengan mentereng Pratikno mengumumkan UGM membentuk Tim Pencari Fakta!~ Wuihhhh....!!!! Sudah lama saya tidak mendengar kasus perjokian terungkap ketika pelaksanaan ujian masuk sebuah fakultas, apalagi UGM. Dan massif....52 orang rela berbuat curang demi jadi DOKTER. Tolong digarisbawahi...atau ditebalkan CURANG DEMI JADI DOKTER! Maka sekali lagi saya bilang: Wuihhhh....!!!! Kalau tahun ini ada joki beraksi, jangan-jangan tahun-tahun sebelumnya ada mahasiswa - yang kini jadi calon dokter atau bahkan jadi dokter - diterima dengan memanfaatkan jasa joki. Kasus ini benar-benar mempertaruhkan integritas profesi dokter. Bagaimana orang yang memiliki kemampuan...