Skip to main content

Posts

Luka di Mata Jayanti

Jayanti membuka matanya. Dia memandang ke sekelilingnya yang dengan cepat dikenalinya sebagai kamarnya. Pantatnya yang tipis digerakkannya ke samping dan tubuhnya menjadi telentang diatas kasur. Matanya berkejap-kejap menyesuaikan diri dengan gelapnya kamarnya. Diluar, remang-remang cahaya menelusup diantara gorden jendela kamarnya. Sunyi. Gadis berambut keriting itu mencoba bangun. ”Aduh.....,” serunya lirih. Tangan kanannya refleks memegang kepalanya. Sakit yang tiba-tiba dirasakannya membuat dia menghentikan upayanya duduk diatas kasur. Dia merebahkan diri sembari memejamkan mata dan tangan tetap diatas kepalanya. Dielusnya kepalanya sembari mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum dia jatuh tertidur tadi. ”Ah iya,” otak Jayanti sekonyong-konyong memutarkan memori memilukan siang tadi. Lagi-lagi kakaknya menghajarnya habis-habisan gara-gara hal sepele yaitu rebutan remote control . Berkali-kali, Rio merebut kendali jarak jauh tersebut dari tangannya untuk menonton program l...

Diskriminasi Media

Saat ini, media menjadi alat efektif dalam membentuk opini publik. Tak hanya itu, media juga dijadikan sarana promosi segala hal yang dianggap penting. Nah, menurutku sesuatu ‘yang dianggap penting’ saat ini sudah bergeser. Dulu, ketika awal jadi wartawan saya didoktrin oleh seorang wartawan senior yang kini jadi pemred website Departemen Pemuda dan Olahraga, M. Anis. Satu hal yang saya ingat selalu bahwa yang dianggap ‘penting’ yang harus dibela pekerja jurnalis adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Apa itu? Misalkan pendaftaran kuliah atau sekolah, peristiwa bencana, atau kebijakan yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat seperti kenaikan BBM. Memang tak banyak yang perubahan drastis dari doktrin, yang ada malah tambahan ‘sesuatu yang penting’ itu. Terutama bila dikaitkan dengan segmen pembaca dari media tersebut. katakanlah seperti Jawa Pos, yang dalam penglihatan awam saya, tambahan itu berupa segala sesuatu yang berhubungan dengan etnis Tiongh...

Ice Lemon Tea

Angin menerpa mukanya yang sayu. Kilat tak terdengar namun cahayanya bersautan di ujung langit. Wulan duduk sendiri. Di meja berkursi empat itu, dia duduk memandang mininote-nya. Di layar terpampang halaman jejaring sosial facebook, wajahnya bersama seorang pria berkacamata, kurus dengan wajah yang selalu terlihat putih. Dia tersenyum saat melihat hidung besar yang nangkring di wajah Tora, kekasihnya. Hidung mancung yang membulat itu selalu jadi bahan godaan untuk membuat wajah Tora memerah menahan malu dan amarah. Namun pada akhirnya, dia akan tersenyum karena menurut kata rayuannya, senyumku sungguh menenangkan hatinya. ”Hmmm......” Wulan tiba-tiba menarik nafas panjang. Wajahnya tak lagi tersenyum simpul. Matanya kembali sayu. ”Berubah lagi,” keluhnya pelan. Dia memandang ke petir yang masih berkejaran di langit malam itu. Purnama tak lagi penuh, angin tak lagi sepoi-sepoi. Dingin malam terasa mengiris lembut kulitnya yang tengah gelisah menanti Tora di kafe Cekidot. Hin...

Ibuku

Ibuku, wanita 56 tahun yang sudah pra menopause Wajah nyaris tak berkeriput, tubuh pun tak penuh lemak. Namun kaki sudah terseok melamban meski Ibuku tetap kuat ditinggal bapakku demi seorang lonte. Asu! Ibuku, sholat hanya bisa duduk Mencari makan dengan berdagang nasi. Bercahaya dengan mengaji. Ibuku tetap ceria bertemuku, selalu mengangkatku ke langit biru. Dan tetap kuat merawatku kala ku pilu. Ibuku tak butuh airmata buaya. Tak butuh dendam kesumat apalagi maaf yang lamat-lamat. Ibuku wanita kuat.

SEMANGAT SEMBUH!!

Curcol:Seminggu Bersama Typhus Udah seminggu aku lagi 'mesra' nih ama S.Parathypii B. Bukan manusia loh tapi bakteri penyebab tifus alias tipes. Yup....yup...finally kena juga penyakit sejuta wartawan itu. Hahaahah.... Well, secara singkat aku kelelahan yang teramat sangat karena tekanan darahku saat ditensi dokter cuma 90/80. Kata dokter sih itu kelelahan. (Kalo kata mas Iman D.Nugroho, penyakit Century kumat. xixixi). Awalnya kupikir cuma gejala tifus aja gitu soalnya dokternya juga bilang "Gejalanya kena tifus." Dokter bilang harus total bedrest. Yaudin....saya jawab o em ji a.k.a oh my god. Cant I? Ya bisa juga ternyata. Lah dikasih obat tidur kayaknya, tiduuuuurrr terus. Tapi yang namanya otak gak mau tidur, mikiiiiiir terus. Maksudnya update status di fesbuk gitu deh. Xixixiixixix. Banyak kawan yang menegur bahkan sedikit tak percaya kalo aku sakit karena tetap aja onlen di situs jejaring fesbuk, twitter or onlen buat chatting meski lagi sakit. Bahkan kemarin L...

Ambruk juga

enam bulan di jakarta, akhirnya aku sakit juga. harus bedrest 3 hari gara-gara panas dua hari plus tekanan darah yang rendah 80/90. Padahal, kalo ngikutin siklus tubuh sih seharusnya udah ambruk sejak tahun kemarin. Ternyata enggak dan baru sekarang. Hiks....hiks.... Kecurigaan utama penyebabnya adalah meliput pansus angket kasus Bank Century selama 4 bulan terus menerus. Untungnya, di hari penentuan alias voting, aku masih bisa ngikutin hawanya. Tapi gak lama kemudian baru sakit. Jadi antara berkah ama musibah juga sih. Puff..... Istirahat 3 hari kira-kira ngapain ya?

Paripurna Century Ricuh

Jakarta – Paripurna DPR RI tentang laporan akhir Pansus Hak Angket Kasus Bank Century, Selasa (2/3), ricuh. Kericuhan terjadi ketika Ketua DPR Marzuki Alie tiba-tiba menutup rapat paripurna. Padahal, sebagian anggota DPR menginginkan hari diambil keputusan dan voting terkait Pansus Century. Voting sendiri memilih dua opsi. Opsi pertama menyatakan bail out tak bermasalah karena untuk mencegah krisis. Opsi kedua menyatakan bailout bermasalah. Sebelum terjadi kericuhan, paripurna berlangsung panas dengan hujan interupsi. Interupsi diawali anggota fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo yang mengingatkan Ketua Pansus Idrus Marham bahwa telah ada kesepakatan pengambilan keputusan dilaksanakan hari ini. ’’Sudah ada kesepakatan di pansus bahwa tidak perlu ada pembacaan pandangan fraksi dan segera diambil keputusan,’’ ujarnya. Hal itu memancing interupsi anggota lain. Mereka berteriak dan berdiri menyampaikan interupsi. Anggota Fraksi PDIP Aryo Bima juga berpendapat pandangan fraksi sudah ...