Tuesday, November 29, 2011

(Sebaiknya) Mahasiswa FK Harus Orang Kaya

Selasa (29/11) pagi, saya mengunjungi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah berbincang dengan kolega baru, saya bersama beberapa kawan memutuskan untuk sarapan di kantin kampus. Jujur, saya sangat menikmati makanan sehat yang disajikan kantin itu terutama ketiadaan penggunaan MSG.
Saya pun merasa nyaman dengan kampusnya yang bersih, dengan para calon dokter berpakaian rapi dan cantik bersliweran sembari membawa buku tebal. Melihat beberapa di antaranya mengenakan jas dokter begitu gagah dan menawan. Apalagi, cuaca pagi tadi sangat cerah.
Tetapi, kenyamanan saya tiba-tiba terusik dengan tindakan salah seorang mahasiswa disana. Jamaknya sebuah kantin yang meja-kursi selalu penuh dan harus berbagi dengan orang lain yang tidak satu kelompok, mahasiswi itu terlihat sangat memusuhi dan judes. Awalnya cuek. Tapi ketika dia sudah pindah meja, dengan seenaknya mengambil wadah sambal tanpa permisi.
Sontak, saya pun kecewa. Hilang rasa simpati saya terhadap mahasiswa kedokteran yang seharusnya memiliki nilai empati dan humanisme lebih dibandingkan orang biasa. Pengalaman ini seolah membenarkan kejadian beberapa tahun sebelumnya ketika saya masih SMA. Ketika itu saya sakit, menemui dokter yang angkuh sekali.Senyum tidak ada, diskusi tidak ada, mau nanya eh udah kasih resep aja. Manyunlah kudapat.
Ya…memang terdengar naif keluhan ini. Tetapi toh kalau kita lihat beberapa kasus yang diceritakan seorang kawan, para lulusan kedokteran rata-rata memang kurang empati. Dalam catatan media, kasus terakhir adalah ditahannya sertifikat rumah oleh RSUP Dr. Sardjito karena pasien itu miskin.

Miris???

Mengutip laman http://rahmatfredy.blog.com/2011/02/19/fakultas-kedokteran-termahal-di-indonesia-tahun-2011/ setidaknya ada sembilan Universitas yang memiliki fakultas kedokteran yang biayanya memang selangit. Kriteria yang dilakukan oleh si penulis adalah asumsi total biaya selama 10 semester untuk sarjana kedokteran dan Co-Assistant, total biaya minimal Rp 300 juta atau lebih, biaya meliputi sumbangan pendidikan, biaya studi per semester, biaya laboratorium, dan lain-lain. Selain itu, juga mencakup kelas regular (PTS), kelas internasional (PTN) dan jalur mandiri (PTN).
Sembilan FK termahal dimulai di Universitas Yarsi yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Tahun ini, mereka menarik biaya studi total sebanyak Rp 312 juta dengan biaya semester : Rp 14 juta. Universitas Trisakti yang juga membuka jurusan FK menyebut total biaya studinya mencapai Rp 322,5 juta dengan biaya per semester adalah Rp 17 juta.
Di Universitas Tarumanagara, FK-nya membutuhkan biaya studi sebesar Rp 328 juta dengan biaya semester adalah Rp 15,35 juta. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia tahun ini melansir biaya studi sebesar Rp 328,3 juta dengan biaya semester sebesar Rp 17 juta. Sedangkan FK Universitas Gadjah Mada menarik total biaya studi sebesar Rp 340 juta dengan biaya per semester Rp 20 juta.

Ambil nafas sejenak.

Kampus selanjutnya adalah Universitas Kristen Maranatha di Bandung yang FK-nya terakreditasi B. Untuk bisa kuliah di fakultas ini harus merogoh Rp 341.530.000 dengan biaya semester adalah Rp 22.000.000. FK Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang terakreditasi A menghabiskan biaya studi sebesar Rp 350.275.000 dengan biaya per semester adalah Rp 18.075.000.
Universitas Indonesia juga masuk dalam FK termahal di Indonesia dengan total biaya studi Rp 425.000.000 dan biaya semester sebesar Rp 35.000.000. Dan terakhir adalah di Universitas Pelita Harapan yang memiliki akreditasi B dan berada di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Total biaya studi sebesar Rp 502.250.000 dengan biaya per semester adalah Rp 31.350.000.

Apakah Anda terkejut? Atau skeptis?

Dengan biaya semahal ini untuk saat ini, saya yakin bahwa pendidikan kedokteran tidak dirancang untuk orang miskin. Harus dari orang kaya. Oke…ada kampus yang menerapkan subsidi silang atau beasiswa bagi mereka yang kurang mampu. Tapi ada seberapa mahasiswa yang tahan dengan gaya borjuis yang ditampilkan oleh lingkungannya?
Saya tidak bermaksud menggeneralisir semua calon dokter bersikap seperti itu. Pasti ada calon dokter yang berkualitas meski terangnya hanya seterang lilin. Seorang kawan saya berkata ada calon dokter yang menjadi begitu karena karakter bawaan. Namun cilakanya ada yang menjadi kurang empati karena lingkungannya tercipta dan menciptakannya begitu. Artinya orang menjadi seperti itu karena sistem yang bobrok, dengan sistem bobrok hanya karakter-karakter sempurna yg sanggup bertahan terhadap idealisme,

…….
Masyarakat memang menaruh harapan tinggi terhadap mereka-mereka yang berilmu termasuk dokter yang memiliki kemampuan mengobati (tentu atas izin Allah SWT). Tetapi rasanya tidak adil kalau dokter harus bersikap seperti malaikat, yang memiliki tujuan kemanusiaan.

Tapi bukankah itu tugas mulia seorang dokter?

Mengutip pernyataan guru besar FK UGM, Prof. dr. Soetaryo Sp. A (K) jika mau menilik sejarahnya pendidikan dokter maupun praktek dokter di Indonesia selalu berlandaskan humanisme bukan berdasarkan bisnis (ekonomi). Pendidikan dokter Indonesia dimulai dengan berdirinya Sekolah Dokter Jawa tahun 1849.
Sekolah ini merupakan sistem pendidikan modern tertua di Asia karena Jepang baru memulai pendidikannya tahun 1863, Cina tahun 1866, dan Filipina tahun 1871. Dan awalnya sekolah ini didirikan sebagai upaya mengatasi wabah penyakit yang berimbas pada kerugian ekonomi negara. Ketika itu, biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah Hindia Belanda. “Mahalnya biaya pendidikan dokter tak lepas dari pengaruh globalisasi,” katanya.
Pernyataan ini jelas sebuah keprihatinan yang tidak main-main. Sebagai salah satu dosen yang dikenal Pancasilais namun santun, saya kira apa yang disampaikan Prof. Taryo sangat keras.
Dalam pikiran naif saya, usul agar mahasiswa kedokteran berasal dari kaum borjuis-lah yang bisa membawa reformasi di bidang biaya kedokteran. Di satu sisi dia tidak keberatan dengan biaya yang selangit, dan di satu sisi lain (mudah-mudahan) dokter-dokter ini memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi.

*Lulus dari kampus yang berbau dokter-dokter

54 comments:

Anonymous said...

Biaya FK UGM dan FK UI di atas adalah biaya utk program internasional. Hampir semua mahasiswanya dari luar negeri, dan mereka mendapat beasiswa dari negaranya. FYI, biaya tsb menurut mrk jauh lebih murah drpd di negarany atau negara lain.

Saya sendiri d FK UGM program reguler per semesternya bayar Rp 1.880.000.
Uang pangkalnya 20 juta. Bbrp teman saya ada yang tidak bayar uang pangkal malahan, krn meminta keringanan k fakultas.

3 teman saya ada yg g bayar uang kuliah sepeserpun alias gratis karena tergolong tdk mampu, jd dibiayai fakultas. Bbrp temen saya juga gratis, tp bkn krn tdk mampu, melainkan krn berprestasi. Bbrp dr mrk juara olimpiade tgkt nasional/internasional.

Mohon menyampaikan artikel scr objektif dan faktual ya...
Jgn sampai mengecilkan semangat juang adik2 yg mau masuk FK...
Trims...

Anonymous said...

Penulis ngawur. Bikin gosip gak bener. Kayak infotainment aja. (Alumnus fk unair)

Anonymous said...

Salah satu mantan mahasiswa bimbingan saya ayahnya tukang becak, dan ibunya pemulung, bisa masuk FK UGM dan lulus cum laude karena prestasinya. Jadi bagi mereka yang tidak mampu, kalau pinter, dan berprestasi, tak usah ragu masuk Fakultas Kedokteran. Bagi mereka yang kaya, harus percaya diri, jangan tergiur oleh rayuan joki. Profesi mulia yang diidamkan jangan diawali dan dihiasi dengan perbuatan curang.

Anonymous said...

Saya baru masuk FK maranatha dan uang pangkal + uang persemester yg dibayar kan diawal terbilang terjangkau .jauh lebih murah dibandingkan UM PTN .terimakasih

Anonymous said...

sya mau masuk FK,ada yg bisa bantu gak?txs

Anonymous said...

asalamualaikum,
memang benar adanya kalo kuliah di FK itu RELATIF mahal, tapi yang perlu digarisbawahi adalah ga semua anak FK itu borju >> thx

Anonymous said...

saya civitas akademika UGM di FKG, saya juga calon dokter gigi namun saya menampik jika saya berasal dari kelangan borju. saya biasa aja. hanya, saya tidak membantah memang seperti itulah, seperti yang dikatakan pemilik blog, banyak yg merasa diatas angin karena gelar dokter yg nanti akan disandangannya serta prestise yg didapatnya saat menjawab pertanyaan "kuliah dimana?"

biasanya anak2 yg bersikap borju belum menyadari benar bahwa uang mereka masih uang mengemis dari orang tua. masih numpang makan dari ketek orang tua. hanya mereka tidak menyadari itu. gimanapun juga ini realitanya. memang benar apa yg dikatakan pemilik blog.
ada beberapa anak yg tidak bergaya borju namun hanya segelintir, dan orang akan melihat generalisasinya daripada sekedar minoritasnya.

Anonymous said...

Inilah alasan kenapa setiap orang bilang mahal masuk fk.
Biaya 2.150.000/smstr. Beasiswa setahun 4,2 juta resminya. Berarti kul biayanya 100 rb. Saya jga bkan dri keluarga berada. Tpi kenyataan bahwa anak yg pintar memang dri kel berada. Ketika ank2 yg lain dpt ip 3 di fk sudah senang, mereka 3,8 saja ribut.
Tentu dgn fasilitas yg dibrikan ortu mreka sdh sewajarnya mndpt nilai yg lebh baik. Tpi sbg peringatan buat saya dan mngkn penulis yg sama tdk sopannya dgn mahasiswi judes itu, bahwa anak orng kaya mau usha tetap jdi orng kaya. Dan usaha untk dpt nilai yg baik, tetap sja sulit baik bpknya tukang becak atw agt DPR

Anonymous said...

saya salah satu mahasiswa FKG UGM yang saya lihat dari generalisasinya, tidak semua mahasiswa kedokteran itu borjuis, seperti saya yang notabene termasuk orang2 yang menengah kebawah. dari superfisial memang akan terlihat kami(mahasiswa medis) seperti orang kaya karena dituntut untuk berpenampilan rapi dan bersih berbeda dengan mahasiswa fakultas lain. hal itu yang mungkin memperlihatkan bahwa kami seperti anak orang berada secara keseluruhan. namun gak semua begitu, ortu saya misalnya hanya pedagang di rumah kecil yg pendapatannya cuma 2 juta bila dirata2 saya harus berjuang untuk mendapat beasiswa agar lancar kuliah di sini.
tapi penulis ga salah juga karena ada memang beberapa oknum borju di kampus saya, mereka biasa menenteng mobil, tas dan barang2 lain yang mahal perilaku mereka pun sangat memprihatinkan. mereka juga memandang teman sebangku kuliahnya yg kurang mampu dengan tidak respek. kuliah di sini saya juga harus kuat2 ga silau melihat mereka yang kaya bawa dan bayar ini itu begitu mudahnya, dan jelas memang bisa orang kurang mampu berkuliah di sini tapi jangan bermimpi untuk bergaul dekat dengan para borjuis ini, karena mereka membentuk blok sendiri yg sulit kita masuki, so sayangnya mereka bak virus yang menjadikan image mahasisa FKG UGM khussnya sangat buruk di mata masyarakat. mari kita jadikan pertimbangan bersama

Anonymous said...

Saya salah satu mahasiswa FK UGM yang sedang Co-Asistensi, menurut saya biaya kuliah FK di UGM pada artikel ini kurang berimbang, memang untuk program International uang SPP dan BOP jauh lebih mahal dari program reguler, saya dari program reguler untuk setiap semester saya membayar total Rp 2.225.000,00 all in, tidak ada tambahan biaya laboratorium maupun lain-lainnya, biaya lain selama Co-Asistensi hanya terbatas untuk keperluan sehari-hari dan biaya asrama bila sedang bertugas di luar kota dan itu pun biayanya masih wajar lebih murah daripada biaya kos. Memang benar kebanyakan mahasiswa di angkatan saya berasal dari kalangan menengah ke atas tetapi banyak juga dari kalangan menengah ke bawah. Kesempatan memperoleh beasiswa pun besar di kampus saya. Saya sendiri berasal dari keluarga sederhana, ayah saya guru SMK dan ibu saya guru SD. Jadi mari kita luruskan bersama bahwa kuliah di kedokteran tidak seluruhnya mahal, asal ada niat dan usaha pasti ada jalan. Mari kita ubah paradigma dan sikap skeptis kita agar kedepannya banyak lulusan Fakultas Kedokteran memang benar-benar orang yang layak dan berkualitas bukan dari orang-orang yang hanya modal uang saja.

Anonymous said...

saya salah satu mahasiswa FKG maranatha... dengan biaya sumbangan tetap 70jt dan biaya semester 17jt saya rasa fasilitas yang diberikan oleh pihak kampus sangat lengkap. hanya harus siap mental dan otak untuk menimba ilmu di fkg maranatha..

okadiari said...

saya masih 3 SMA dan hari ini secara tidak sengaja menemukan artikel ini ketika mencari-cari referensi mengenai FK UGM. benarkah biayanya hingga 3rtsan jt? teman saya yg sudah masuk tahun lalu di FK internasional UGM cukup membayar 130jt udah sama semester 1 wajib cicil 2x. mohon info yang akurat dan bantuannya, terimakasih

Anonymous said...

Saya mahasiswa FK UGM, saya agak miris membaca artikel ini karena saya rasa isi artikel ini terlalu dilebih-lebihkan. Saya sebagai mahasiswa program reguler memang membayar uang pangkal senilai 40 juta. tetapi itupun boleh dicicil selama 5 semester. Selain itu, biaya per semester sekitar 2,1 juta sangat reasonable karena sudah mencangkup semua materi dan praktikum dari fakultas. Selain itu, pihak fakultas juga memberikan banyak akses beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu sehingga tidak ada mahasiswa yang studinya terganggu karena masalah ekonomi.

ratna oktapiani sari said...

klo biaya fk ugm thn 2013 kira2 brp?
trus tiap semester nya brp?
untk ank bidikmisi.

mksh.

Anonymous said...

FK Unhas, SNMPTN undangan maupun tulis biaya masuknya sama kayak jurusan lain. uang pangkal 1,6 jt, SPP 600 ribu..
JNS(jalur non subsidi/mandiri) uang pangkal reguler 100 jt spp 1,5 jt, internasional 125 spp 3 jt..
ada yg lbh murah?
*smua orang bisa kuliah di FK, asal mau berusaha, belajar dan rajin berdoa

Anonymous said...

Mungkin anda perlu mempertimbangkan lagi omongan anda. Apakah dari sebuah wadah sambal yang adalah milik kantin tersebut dan bukan milik anda beserta cara anda menilai orang dari bagaimana cover orang tersebut anda bisa menilai sikap mahasiswa kedokteran? Soal biaya tolong anda cek website resmi dari masing-masing universitas tersebut supaya tidak menjadi rumor yang ngawur dan tidak jelas sumbernya.

Anonymous said...

Kalau yang anda bicarakan di artikel ini saja semuanya ngawur bagaimana para pembaca bisa percaya isi artikel di blok anda yang lain.

Anonymous said...

setelah 10 tahun di fakultas kedokteran mengamati teman dan mahasiswa saya, boleh dibilang saya setuju isi artikel ini. Mahal, tapi tidak untuk mengecilkan hati yang kurang mampu. Banyak jalan yg bisa ditempuh. mahasiswa borju? sy amati proporsinya meningkat tiap tahun. banyak komentar di atas mengatakan "saya tidak borju", agak aneh juga karena penilaian borju atau tidak itu ketika dilihat orang lain bukan dilihat diri sendiri.

Anonymous said...

Yang pasti ini masukan yang bermanfaat... Jadi orang tua bisa menghitung dan mempertimbangkan bila anaknya masuk FK...

Anonymous said...

ARTIKEL INI SANGAT INFORMATIF DAN MENGINSPIRASI PERBAIKAN PENDIDIKAN DOKTER UNTUK KEMAJUAN BANGSA INI... SEMOGA BERKAH DAN MANFAAT... TERIMAKASIH.

Anonymous said...

Ini fakta, atau gosip?
Kalo beneran fakta, wadduuh. Bikin nyali makin ciut aja nih.

Anonymous said...

Saya mahasiswa FK UGM yg saat ini sedang koas,

Bagi adik2 yang mau masuk FK, jangan takut, coba saja dulu. Jangan menerima mentah2 informasi di blog ini.

Sekedar info, UGM saat ini bukan BPHP lagi tapi jadi BLU
intinya, semua manajemen keuangan tidak sepenuhnya dikelola secara otonomi tapi dikembalikan ke pemerintah. Jalur masuknya undangan, SBMPTN untuk reguler; dan tes mandiri untuk inter. Inter memang jauh lebih mahal, bisa 30 jutaan per semester (denger2 pake dollar bayarnya). Tapi itu wajar, mengingat fasiitas yang diberikan fakultas untuk program inter.

Ada kabar yang menyebutkan uang pangkal kemungkinan tidak ada
tapi uang per semester tidak lagi 2,1 juta. Kemungkinan uang per semester meningkat jauh untuk kompensasi tidak adanya uang pangkal. Jumlahnya belum tau.

Pengalaman saya di FK UGM, ada banyak sekali jenis beasiswa yang bisa diambil, misal PPA, BBM, BOP, beberapa bank, beberapa instansi, asal rajin cari info dan mau mencoba.

Bagi anak berprestasi tapi kurang mampu, fakultas juga menyediakan dana bantuan khusus.

Bahkan, jika di tengah pendidikan ada mahasiswa yang mengalami kesulitan finansial, dapat mengajukan surat keringanan ke dekanat.

Memang wajar jika biaya di FK tinggi, mengingat sarana untuk praktikum dan perkuliahan memang membutuhkan dana yang besar. Namun, bukan berarti hanya orang kaya yang bisa masuk FK.

Selalu ada jalan bagi yang mau berusaha...

Anonymous said...

Saya dari fk maranatha tidak mengeluarikan uang sampe segitu, coba di cek lagi datanya dapet dari mana

Yusuf said...

SPP saya saat menjalani pendidikan dokter umum sangat murah. Hanya 180 ribu per semester. Itu antara tahun 1993-1999. Dan saat saya sekolah spesialis di Unair, SPP per semester juga terjangkau. Hanya 1 juta per semester, tanpa uang masuk sama sekali. Itu berlaku untuk semua dokter yang menjalani pendidikan spesialis antara tahun 2005-2010. Demikian sekadar info. Semoga bermanfaat..

Anonymous said...

Sekedar info saja, coba kuliah di China, jurusan kedokteran dengan kualitas internasional dan biaya murah. Hub Chinalink saja yg paling terpercaya(www.chinalink.co.id)

Anonymous said...

Saya mungkin harus membuka mata atas mahalnya biaya pendidikan dokter. Memang kemiskinan adalah ujian, berapa banyak kesulitan yang harus dihadapi karena ketidakmampuan finansial. Tapi memberikan informasi, hendaklah berimbang, masih banyak dokter dari keluarga kurang mampu menjalani kuliah di fakultas kedokteran dengan keringanan2 biaya yang diberiakn. Jangan ciutkan cita2 mulia mereka yang ingin menuntut ilmu di fakultas kedokteran namun berasal dari keluarga tidak mampu, saya sendiri mengalaminya, seorang yatim dengan ibu pedagang jamu? tak mustahil bagi saya berkuliah hingga kini, akan menjalani co ass. Ada banyak beasiswa betebaran dapat saya manfaatkan, BBM, PPA, Bidik misi. sebagai kaum tak punya, kaum minoritas di tempat menimba ilmu, peluang kami mendapat beasiswa terbuka lebar, tentu anak para dokter kalah pantas dengan kami untuk mendapat beasisiwa. 1 lagi, uang gedung bisa dibebaskan juga jika memenuhi syarat. Alhamdulillah, juni lalu saya wisuda, tentunya saya dapat wisuda setelah dinyatakan tidak memiliki tanggungan biaya pendidikan dalam bentuk apapun. Perkenalkan Kampus saya, FK UNS tercinta.

Anonymous said...

harusnya ilmu kedokteran murni untuk anak2 yg memang mampu secara otak bukan mampu karena uang,ilmu kedokteran hubungnnya dngn jiwa, sdh sehrusnya jalur mandiri dihapus, ilmu kedokteran harus untuk anak2 yg bnar2 mampu otaknya

Anonymous said...

saya saat ini kelas 3 SMA. saya ingin mengambil fk ugm atau uns. mohon informasi akurat tentang biaya dari fk kedua univ tsb. apa benar masuk fk ugm sampai beratus2 juta ? sekian

Anonymous said...

besar harapan aya untuk masuk FK UGM, maka dari itu tolong berikan informasi yang akurat, karna itu menjamin masuknya kita yang mau masuk FK khususnya saya...
sedikit informasi kakak2 senior bisa membantu mewujudkan keinginan kami. terimakasih :)

http://asuransipendidikankita.blogspot.com/ said...

Walau kebanyakan comment yang disini konfrontasi dengan tulisan diatas, sebagian ada juga benarnya. Lihat saja dokter-doter kita sekarang mereka nyaris murni bisnis. Melayani pasien juga kurang jika sudah ngetop. Makanya banyak pasien Indonesia lebih suka berobat ke Malaysia, padalah dokter-dokter di malaysia itu banyak yang lulusan USU.Manajemen rumah sakitnya lebih bagus dari Indonesia. Target mereka pasien sembuh secepatnya bukan spt di Indonesia. Dokter yg bekerja di Rumah sakit tidak ada lagi melayani praktek di tempat lain, jadi full di rumah sakit tempat mereka bekerja.

Anonymous said...

Saya anak fk untar,artikel ini sedikit berlebihan.bila ada anak kurang mampu yang ingin msk fk untar,fk untar menyediakan program msk fk dengan beasiswa.dan bila seseorang di anggap orang kaya yang hanya ingin gelar dokter,saya kira ini berlebihan.
kaya/tidaknya seseorang adalah relatif.
di fk kami,semua anak mendapat penilaian yg objektif .jadi yang bertahan sampai mendapatkan gelar dokter bukanlah kaya/tidak.melainkan seseorang itu mampu/tidak menjadi dokter berdasarkan kemampuan pribadi.banyak org kaya yg berhasil dgn jerih payah mereka juga,dan banyak org yg kurang mampu yg juga berhasil dari jerih payah mereka untuk mendapat gelar dokter.

Anonymous said...

Siapa diantara kalian yang harus di percaya... Toh kita ini Anonymuos semua...

Anonymous said...

Jujur aja gan...!!! Semua orang yg masuk atau pernah mencoba masuk faked tau bahwa faked itu susah n sangat mahal.
Kenapa . . .???, karna para pegawai dan guru besar (PTN) sudah terlalu banyak. makanya mereka jadi kurang kerjaan,mungkin kurang penghasilan, atau kurang ajar sehingga mereka rela menurunkan derajat untuk mengambil pekerjaan tambahan sebagai broker, makelar, calo atau apapun namanya dengan dalih "membantu" calon mahasiswa/i supaya dapat diterima di faked. Kompesasinya cama harus membayar "sukses fee" sebesar 100-300% dari seharusnya. Yg nilainya mencapai 100-300jt.
Belum lagi harus membayar biaya persemester....
Kalo untuk biaya masuk aja sudah begini masih murah ya gan...????
kalo masih ada hati nurani mari kita jangan munafik agar setiap generasi muda kita mendapat kesempatan yg sama dalam untuk mengapai cita-cita. (Ini fakta 2013)

Anonymous said...

Saya mahasiswa FK Untar, dan bukan orang kaya. Saya dapat beasiswa melalui jalur JPP. Dan biayanya tidak semelambung yang penulis paparkan.
Bahkan banyak dianyatara teman saya ada yang dapat beasiswa 100%. Jadi tidak dipungut biaya sedikitpun.
Iseng-iseng cari artikel mengenai kedokteran, sudah terkejut mulai dari membaca judulnya. Non, maaf.. Coba lebih cerdas lagi dalam menulis sesuatu. Jangan sampai ketidakpahaman kamu mengenai FK memadamkan semangat mereka yang mampu jadi calon dokter terbaik.
FYI, anak jutawan sekalipun kalau dia tidak punya kepintaran yang memadahi sebagai 'anak FK' ya tidak akan pernah bisa masuk FK.
Akhir kata, saya hanya ingin meluruskan kalau artikel ini salah besar. Tetap semangat untuk adik-adik junior yang bukan orang kaya, tapi mau masuk FK. Dengan usaha dan kerja keras, semua PASTI bisa tercapai.
Dan tetap semangat untuk penulis artikel, semoga bisa menulis artikel yang lebih baik.

Defa Miftara Agustine said...

uang pangkal apa kak??? saya pengen masuk FK UGM, kira2 beasiswa yg ditawarkan apa saja selain bidik misi? terima kasih

Anonymous said...

Adik2 Kakak2.. mohon petunjuknya bagi saya yang berumur 27 thn tetapi masih punya keinginan besar untuk kuliah kedokteran.. mengingat saya yg sudah lulus SMA sejak hampir 10thn yg lalu, apakah ada program kuliah kedokteran di univ. yg bersedia menerima mahasiswa dgn usia spt saya?

asuransipendidikankita said...

Sudah saatnya pemerintah mengucurkan dana yang sudah dianggarkan sebesar 20 % itu untuk program-program seperti ini. Kita akui Biaya pendidikan fakultas kedokteran memang relatif mahal daripada fakultas lain. Hal ini disebabkan banyaknya pemakaian laboratorium samapi kepada pemesanan mayat

Anonymous said...

jangankan FK,saya mahasiswa FEB UGM disini juga banyak kok yg borju

masalah uang spp sampai 20 juta,disini juga sama kok untuk program internasional,tapi menurut saya itu sebanding dengan fasilitas yang didapatkan (pengantar bhs inggris,kesempatan double deegre) malah menurut kami yang mahasiswa S1 reguler yang biaya semesterannya 500ribu (blm termasuk sks) terbantu dengan subsidi silang berupa fasilitas,dana kepanitian dll

menurut saya sih yang penting lolos dulu masuk snmptn/ujian mandiri PTN (susah lo) toh beasiswa juga banyak,kalo PTS mah wajar ga bisa disalahkan juga karena rata2 yang masuk PTS gagal ke PTN jadi ya harus modal Dana nya hehe

Anonymous said...

maaf ka. aku kelas 3 SMA dan aku benar-benar antusias sama Fakultas Kedokteran, terutama UI. apa benar kalau kuliah di jurusan FK biaya kuliah sampai segitu mahalnya? banyak dari komentar kakak" mahasiswa FK bilang tidak semahal itu. kadang aku juga mikir kalau semahal itu, bagaimana dengan kedua orangtuaku. tapi, aku akan terus berusaha supaya bisa masuk FK. menurutku, tidak ada salahnya mencoba. SEMANGAT!
makasih.

Anonymous said...

Waah,, UNS biaya "plus plus" ny banyaakk dn gedee bgtt.. Taun '12 aja untk UM ny mematok minimal 500jt.. UNS trcinta???? -___-

Shelley Koplak said...

ane mau nanya nih. ane bukan mahasiswa FK UGM, tapi denger2 ada yg pernah gak ngumpulin tugas, gak pernah masuk blah blah blah tapi tetep dikasih nilai B ya? Katanya IPK 3 kalo di FK udah juelek banget soalnya rata-rata IPK-nya 4. Bener gak ya?
soalnnya kalo kata yang lain, kalo mau ujian tuh ada yg ujian tulis, praktek sama yg disuruh jelasin ke dokter beneran gitu (CMIIW). dan katanya kalo gak lulus satu ujian aja suruh ngulang semua :/. jadi yang bener mana ya? :/.

dr.Garnis said...

saya alumni ugm lulus 2012 kemarin. saya masuk bayar uang gedung 10 juta, persemester spp+bop 2,5 juta.memang biayanya variatif, tergantung waktu masuk ngisi sumbangan brp.klo mau yang jalur internasional gak tes melalui tes umum, itu memamng mahal.tp ya dasar media, yang dimunculkan yang paling mahal. biar pada takut...bad news is a good news.hahaha dasar

Anonymous said...

Mau menjawab pertanyaan soal IPK. FYI, kuliah di kedokteran itu sangat susah n byk pengorbanan waktu luang. Kalo saya setiap hari belajar min 2 jam. Kalo mau ujian bs seharian bljr dirumah, itupun ipk juga ga 4. Jadi kalo dibilang kuliah di FK asal kaya aja, salah besar ya.. ujian di FK ada ujian skillslab : ujian praktek pura", ada ujian tulis: meliputi fisika kedokteran-kimia-dll, ujian anatomi tubuh manusia pake kadafer/mayat, dan masih byk ujian" lainnya. Kalo soal ngulang/ istilahnya Gagal Blok, itu kebijakan masing" universitas. kalo saya di UNTAR, gagal salah satu ujian aja berarti GB, alias ngulang materi 1 blok (1.5 bulan). Kesimpulan: di FK susah, tp kalo niat ya ga mustahil. Buktinya saya aja bs bertahan (dan tanpa sogok menyogok) .semoga infonya bermanfaat ya.thanks :)

Anonymous said...

Untuk tahun akademik 2014/2015 FK UPH kira-kira menghabiskan biaya sekitar 505.250.000. Biaya tersebut belum termasuk biaya study tour, dll. Untuk beasiswa sebenarnya UPH memiliki 4 jenis beasiswa yaitu Prestasi Akademik, Keterbatasan Ekonomi, Prestasi Seni, dan Prestasi Olahraga. Namun untuk FK sendiri hanya bisa mendapatkan beasiswa melalui prestasi akademik. Tipe Program Beasiswa UPH adalah Platinum (100%), Gold (75%), Silver (50%), dan Bronze (25%). Beasiswa meliputi Biaya Pendaftaran, Biaya Semester dan Biaya Kredit. Untuk mempertahankan beasiswa di semester selanjutnya, pemegang beasiswa harus mencapai IPK dan IPS yang telah ditetapkan.

Lintang Banjar Sore said...

Hahaha ade ade baru jalan sedikit itu sih, saya dulu sekolah lebih murah dari kalian karena mengandalkan UMPTN. Uang sumbangannya ngak saya bayar waktu itu kalau disuruh bayar saya mundur ngak kuliah. Bisa kebayang kan gimana miskinnya keluarga saya?

saya kuliah sambil dagang asongan copian diktat dosen di kampus, hahahahaha

mungkin para dosen masih dendam dengan saya yang jadi plagiat dan penjuat diktat buat bayar kampus. tahun tahun itu setelah kerusuhan masal memang ekonomi indo hancur tapi harus diterima dengan lapang dada.

Untuk Kampus yang terkenal di JABAR terima kasih hadiahnya dulu, mau mengajari saya jadi dokter walaupun mungkin saya bayar ke anda cuma seratus rupiah per dosen.

Ade ade kalian harus terus TAFT kuat nanti mau sekolah lanjutan jadi spesialis juga mungkin ratusan kali lebih mahal dari itu. Jangan menyerah di depan dulu.
mulai belajar macarin anak atau cucu konsulen supaya dapat backing, kumpulin uang sebanyak banyaknya buat sopoy, kalau perlu yang haram juga ikut dikumpulin.
Karena kita harus berjuang memperebutkan kursi selanjutnya. Jangan terlalu idealis jaman sekarang orang ngak perlu pintar yang perlu itu kaya!!!!!!!

Terima kasih Kampus atas hadiah tahun baru 2014 dengan menolak saya yang sudah berada di luar daerah dari sejak lulus meninggalkan tanah kelahiran kemarin saya sudah sempat 2 kali test PPDS dan berhasil gagal.

Walaupun saya berangkat atas intruksi Bupati tapi akhirnya kandas, mudah mudahan diluar daerah sana nanti yang dari dulu tidak punya dr spesialis masyarakatnya pada sehat semua, jadi ngak mesti dirujuk ke ibukota propinsi ataupun sampe rujukan ke pulau jawa karena kasus spesialistik.

mohon maaf saya infokan kakak kelas saya yang biayanya sekolah PPDS dibiayai dari APBD dan APBN lulusan almamater sama dengan saya juga mau kabur tuh dari daerah gimana ya solusi kedepannya.

Apa mental ideologinya dulu waktu test tidak dinilai ya DR Sp.. kenapa dia yang akhirnya milih kabur diterima PPDS?

Nah Ade Ade yang pada ,mau jadi dokter sekarang kudu mantapin hati ya, itulah kenyataan di lapangan.
Tambah lagi sekarang jasa dokter sudah pake BPJS, besok kita makan
pake cacing supaya bisa nabung buat biaya sekolah lagi.

Anonymous said...

JANGAN HIRAUKAN ARTIKEL INI... INI HANYALAH HOAX DAN MUNGKIN 'MAAF' PENULIS ADALAH LULUSAN SMA YANG TIDAK BISA LOLOS KE FK UGM DARI SEMUA UJIAN MASUK YANG DISEDIAKAN PIHAK KAMPUS... INFORMASI BIAYA DAN LAIN-LAIN HANYA PERCAYA PADA SUMBER YANG RESMI (ugm.ac.id) BUKAN DARI PENGADA-ADA... THX

Anonymous said...

Maaf saya mau tanya untuk biaya mandiri fkg ugn 2013 berapa ya ? Terima kasih

Anonymous said...

diluar negeri juga bisa lebih mahal lagi..ilmu mau yang murah apa lagi gratis mau ilmu yang kaya apa???ilmu nyantet aja bayar dukunnya mahal!!!apa lagi ilmu yang memang berguna buat kehidupan!!!

atha emmanuele said...
This comment has been removed by the author.
atha emmanuele said...

Memang bener kuliah kedokteran mahal, tp itu tergantung KAMPUSnya! Klo lo kuliah di PTS yg emg nyari duit, jelas mahal biayanya selangit, tp klo lo bs lolos SNMPTN biayanya itu murah, bahkan byk jg PTS yg ngasih tawaran beasisnya buat anak2 pinter yg pgn kuliah FK, jd klo nulis blog jgn ngaco, kesian ade2 yg dr kalangan bawah klo baca ni blog, yg ada pada patah semangat...

Priadhana Edi Kresnha said...

Saya bukan anak FK dan tidak pernah kuliah di FK. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan artikel mba Mashita, tapi tidak menampik kebenaran artikel ini.
Tapi fenomena mahalnya biaya kuliah adalah sesuatu yang wajar. Bukan hanya di FK, adik saya yang kuliah di jurusan teknik arsitektur salah satu PTN ternama di Jakarta/Depok biaya per semester mencapai 7.5 juta, tapi karena dapat keringanan jadinya hanya bayar 6.5 juta per semester. Kami menyanggupi karena ini demi dia dan keluarga. Tidak ada warisan yang lebih baik daripada ilmu yang bermanfaat.

Kita jangan memandang biaya ini menjadi beban, tapi anggaplah biaya ini jadi pemicu supaya bisa belajar sungguh-sungguh demi masa depan sendiri. Daripada kuliah gratis tapi jadi ogah-ogahan, lebih baik mahal sekalian tapi serius.

Istri saya juga les bahasa Inggris di wall street biayanya 22 juta. Tapi tetap saya paksa belajar walau sebenarnya saya tidak punya uang sedemikian banyak. Saya bayar uang pangkal dan cicil per bulan. Ini demi kita sendiri, bukan demi orang lain. Kalau kita sukses, kita sendiri yang merasakannya, dan orang lain pun bisa terkena imbas dari kesuksesan kita. Suatu saat nanti, ketika mba Mashita menjadi pengajar / dosen, mba pasti merasakan pentingnya biaya pendidikan. Sebab Mba harus melayani para pelajar dan mengajar mereka dengan sebaik-baiknya, serta harus menyediakan fasilitas selengkap-lengkapnya. Pada akhirnya biaya tersebut akan kembali ke pelajar tersebut.
No Pain No Gain.
Salam buat Mba Mashita, Good Artikel. Semoga sukses dan turut menjadi pengajar di kampus Mba.

Anonymous said...

Saya mahasiswa fk ugm prodi pd reguler. Saya masuk dg uang 15 juta lebih dikit untuk administrasi. Uang semester 2 juta lebih dikit. Ya itu tergolong murah karena ketika sma uang satu semester saya 2,1 juta juga. Yg dapat saya benarkan dari pendapat penulis adlh memang karakter teman2 calon sejawat saya bermacam2. Tp kebanyakan mereka sudah memiliki geng2 sendiri jadi jika ingin aman maka bentuk geng sendiri. Jadi mahasiswa fk harus tahan sabar dan untuk muslim saya sarankan masuk rohisnya karena disana teman2 lebih baik. Tahan sabar yg saya maksud adalah memang kebanyakan anak kutu butu tp juga banyak yg berorganisasi. Tp banyak juga yg dg ego masing2 mementingkan nilai akademik dan menganggap teman sebagai teman saja demi keuntungan mereka. Sabar juga dalam menghadapi teman2 yg terlihat kekanakan karena usia mereka yg masi terlalu muda belum memiliki empati dan simpati pada orang lain. Sabar juga menghadapi kuliah yg mungkin menyita waktu berharga selama hidup ini dan (dari pengalaman jelek, smg tidak ditiru) sampai2 mengabaikan perintah ibadah tepat waktu karena sibuk dg urusan materi yg harus dihafal. Buat apalah hidup terlalu fokus di dunia demi meraih kesuksesan, karena tuhan telah menakdirkan kita jg dg usaha. Jd seharusnya seimbang antara dunia dan akhiratnya. BTW yg jadi motivasi saya adalah belum tentu yg perfect di akademik kelak akan jadi dokter yg hebat. Justru yg selalu melatih softskill lwt organisasilah yg akan mjd orang hebat. Saya kelak mungkin akan mengagumi teman2 yg hebat ini dibanding teman2 yg fokus dg akademik saja meski sukses tp tidak ada rasa segan dan respect dari pandangan saya. Ya begitulah dilematika kuliah di fk. Jika selama setahun merasa tidak cocok maka saran saya segera daftar snmptn saja. Daripada seperti saya menyesal ingin pindah jurusan. Tp apa daya sudah 2 tahun saya disini. Jadi nikmati saja hidup ini dan selalu berdoa pada-Nya serta berusaha menjdi dokter yg tulus mengabdi pad bangsa ini.

Anonymous said...

Kalo menurutku yg paling berpengaruh itu kelompok tutorialnya. Jadi dalam satu angkatan kuliah di prodi pend dokter yg jumlahnya 300 itu akan dibagi dalam kelompok2 belajar jumlahnya 10 an orang. Nah kelompok ini akan jalan selama setahun sebelum diaduk/diacak lagi di tahun depan. Jika di awal dapet kelompok yg ngga gitu sesuai dg kita maka tamatlah kita karena di awal2 adalah masa2 adaptasi. Jika dapet klpk isinya orang2 kaya yg jarang nunduk kebawah bisanya cuma dongak ke atas sementara kita dari gol bawah maka tamatlah riwayat kita jika tidak pandai bergaul dan meraih simpati mereka. Tp rata2 baik kok anak2 itu meskipun kadang terlihat luarnya aja. Tp ya begitulah kuliah di kedokteran. Kondisi ini masih jauh(sangat jauh) lebih baik di ptn daripada perguruan tinggi swasta karena swasta itu kalo ngga punya duit ato otak yg sangat encer sampe2 rektornya butuh anak tsb buat trigger teman2nya yg sebenernya isinya anak2 yg kepaksa kuliah kedokteran karena bokap nyokap dokter juga. Ya begitulah dilematika dokter itu. Kalo masuk kedokteran tu usahakan dg niat tulus jangan liat prospek kerja ato apalah karena cuma bikin mkan ati. Kuliah belajar kuliah belajar. Kalo kebanyakan hedon ntar ngga lulus2 dan nilai bisa ambruk. Niatin dg tulus ikhlas biasain begadang buat belajar meski itu tidak baik buat kesehatan karena bisa sebabin kanker. Pokonya doa tulus ikhlas dan serahkan takdir ke yg diatas insyaAllah itu adalah salah satu jalan terbaik menuju surga. Amiin

sitasaja said...

terima kasih atas komentarnya, baik yang mendukung maupun mengecam.