(Sebaiknya) Mahasiswa FK Harus Orang Kaya

Selasa (29/11) pagi, saya mengunjungi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah berbincang dengan kolega baru, saya bersama beberapa kawan memutuskan untuk sarapan di kantin kampus. Jujur, saya sangat menikmati makanan sehat yang disajikan kantin itu terutama ketiadaan penggunaan MSG.
Saya pun merasa nyaman dengan kampusnya yang bersih, dengan para calon dokter berpakaian rapi dan cantik bersliweran sembari membawa buku tebal. Melihat beberapa di antaranya mengenakan jas dokter begitu gagah dan menawan. Apalagi, cuaca pagi tadi sangat cerah.
Tetapi, kenyamanan saya tiba-tiba terusik dengan tindakan salah seorang mahasiswa disana. Jamaknya sebuah kantin yang meja-kursi selalu penuh dan harus berbagi dengan orang lain yang tidak satu kelompok, mahasiswi itu terlihat sangat memusuhi dan judes. Awalnya cuek. Tapi ketika dia sudah pindah meja, dengan seenaknya mengambil wadah sambal tanpa permisi.
Sontak, saya pun kecewa. Hilang rasa simpati saya terhadap mahasiswa kedokteran yang seharusnya memiliki nilai empati dan humanisme lebih dibandingkan orang biasa. Ya…memang terdengar naif keluhan ini. Tetapi toh kalau kita lihat beberapa kasus yang diceritakan seorang kawan, para lulusan kedokteran rata-rata memang kurang empati. Dalam catatan media, kasus terakhir adalah ditahannya sertifikat rumah oleh RSUP Dr. Sardjito karena pasien itu miskin.

Miris???

Mengutip laman http://rahmatfredy.blog.com/2011/02/19/fakultas-kedokteran-termahal-di-indonesia-tahun-2011/ setidaknya ada sembilan Universitas yang memiliki fakultas kedokteran yang biayanya memang selangit. Kriteria yang dilakukan oleh si penulis adalah asumsi total biaya selama 10 semester untuk sarjana kedokteran dan Co-Assistant, total biaya minimal Rp 300 juta atau lebih, biaya meliputi sumbangan pendidikan, biaya studi per semester, biaya laboratorium, dan lain-lain. Selain itu, juga mencakup kelas regular (PTS), kelas internasional (PTN) dan jalur mandiri (PTN).
Sembilan FK termahal dimulai di Universitas Yarsi yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Tahun ini, mereka menarik biaya studi total sebanyak Rp 312 juta dengan biaya semester : Rp 14 juta. Universitas Trisakti yang juga membuka jurusan FK menyebut total biaya studinya mencapai Rp 322,5 juta dengan biaya per semester adalah Rp 17 juta.
Di Universitas Tarumanagara, FK-nya membutuhkan biaya studi sebesar Rp 328 juta dengan biaya semester adalah Rp 15,35 juta. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia tahun ini melansir biaya studi sebesar Rp 328,3 juta dengan biaya semester sebesar Rp 17 juta. Sedangkan FK Universitas Gadjah Mada menarik total biaya studi sebesar Rp 340 juta dengan biaya per semester Rp 20 juta.

Ambil nafas sejenak.


Kampus selanjutnya adalah Universitas Kristen Maranatha di Bandung yang FK-nya terakreditasi B. Untuk bisa kuliah di fakultas ini harus merogoh Rp 341.530.000 dengan biaya semester adalah Rp 22.000.000. FK Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya yang terakreditasi A menghabiskan biaya studi sebesar Rp 350.275.000 dengan biaya per semester adalah Rp 18.075.000.
Universitas Indonesia juga masuk dalam FK termahal di Indonesia dengan total biaya studi Rp 425.000.000 dan biaya semester sebesar Rp 35.000.000. Dan terakhir adalah di Universitas Pelita Harapan yang memiliki akreditasi B dan berada di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Total biaya studi sebesar Rp 502.250.000 dengan biaya per semester adalah Rp 31.350.000.

Apakah Anda terkejut? Atau skeptis?

Dengan biaya semahal ini untuk saat ini, saya yakin bahwa pendidikan kedokteran tidak dirancang untuk orang miskin. Harus dari orang kaya. Oke…ada kampus yang menerapkan subsidi silang atau beasiswa bagi mereka yang kurang mampu. Tapi ada seberapa mahasiswa yang tahan dengan gaya borjuis yang ditampilkan oleh lingkungannya?
Saya tidak bermaksud menggeneralisir semua calon dokter bersikap seperti itu. Pasti ada calon dokter yang berkualitas meski terangnya hanya seterang lilin. Seorang kawan saya berkata ada calon dokter yang menjadi begitu karena karakter bawaan. Namun cilakanya ada yang menjadi kurang empati karena lingkungannya tercipta dan menciptakannya begitu. Artinya orang menjadi seperti itu karena sistem yang bobrok, dengan sistem bobrok hanya karakter-karakter sempurna yg sanggup bertahan terhadap idealisme,

…….
Masyarakat memang menaruh harapan tinggi terhadap mereka-mereka yang berilmu termasuk dokter yang memiliki kemampuan mengobati (tentu atas izin Allah SWT). Tetapi rasanya tidak adil kalau dokter harus bersikap seperti malaikat, yang memiliki tujuan kemanusiaan.

Tapi bukankah itu tugas mulia seorang dokter?

Mengutip pernyataan guru besar FK UGM, Prof. dr. Soetaryo Sp. A (K) jika mau menilik sejarahnya pendidikan dokter maupun praktek dokter di Indonesia selalu berlandaskan humanisme bukan berdasarkan bisnis (ekonomi). Pendidikan dokter Indonesia dimulai dengan berdirinya Sekolah Dokter Jawa tahun 1849.
Sekolah ini merupakan sistem pendidikan modern tertua di Asia karena Jepang baru memulai pendidikannya tahun 1863, Cina tahun 1866, dan Filipina tahun 1871. Dan awalnya sekolah ini didirikan sebagai upaya mengatasi wabah penyakit yang berimbas pada kerugian ekonomi negara. Ketika itu, biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah Hindia Belanda. “Mahalnya biaya pendidikan dokter tak lepas dari pengaruh globalisasi,” katanya.
Pernyataan ini jelas sebuah keprihatinan yang tidak main-main. Sebagai salah satu dosen yang dikenal Pancasilais namun santun, saya kira apa yang disampaikan Prof. Taryo sangat keras.
Dalam pikiran naif saya, usul agar mahasiswa kedokteran berasal dari kaum borjuis-lah yang bisa membawa reformasi di bidang biaya kedokteran. Di satu sisi dia tidak keberatan dengan biaya yang selangit, dan di satu sisi lain (mudah-mudahan) dokter-dokter ini memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi.

*Lulus dari kampus yang berbau dokter-dokter

posted under |

0 comments:

Newer Post Older Post Home

Bagikan

Jam dan Kalender

Sering Dibaca

Tulisan-tulisan


Recent Comments