Tuesday, June 14, 2011

Kisah Anak Jujur yang Ajur

Nasib Ibu Siami, Jujur Malah Hancur
Senin, 13 Juni 2011 | 16:25 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya - Siang itu, rumah berdinding cokelat di gang sempit Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur, tampak sepi. Pagarnya terkunci rapat. Satu sak semen teronggok di terasnya.

Di rumah itu, mestinya Siami dan keluarganya tinggal. Namun, sudah lima hari ini keluarga itu mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Lumpang, Desa Deliksumber, Kecamatan Benjeng, Gresik. “Menenangkan diri dulu Pak,” kata Siami saat dihubungi Tempo melalui telepon seluler, Senin, 13 Juni 2011.

Siami, ibu dari Al, siswa kelas VI SD Negeri Gadel II, hendak menenangkan diri lantaran masalah yang menderanya akhir-akhir ini. Sejumlah warga dan wali murid sekolah itu menganggap dia mencoreng nama baik sekolah itu. Penyebabnya, lantaran ibu dua anak ini mengungkapkan kasus mencontek massal yang terjadi di sekolah tersebut saat ujian akhir sekolah bertaraf nasional (UASBN) beberapa waktu lalu.

Beberapa hari sebelum ujian, Al mendapat instruksi dari gurunya untuk memberikan contekan kepada rekan-rekannya. Sebab, bocah pendiam itu dikenal paling cerdas. “Kalau ada temannya yang tidak bisa mengerjakan soal, tolong dibantu,” kata seorang sumber di sekolah dasar tersebut menirukan ucapan Fatkurahman, wali kelas VI sekolah itu.

Semula Al bungkam soal ini karena takut. Tapi, kemudian Al melaporkan instruksi sang guru itu kepada ibunya. Siami sempat datang ke sekolah untuk meminta penjelasan kepada Fatkur, sapaan Fatkhuramhan. Namun, kata Siami, jawaban Fatkur terkesan berbelit-belit.

Tak puas dengan penjelasan sekolah, Siami kemudian mengadukan masalah itu ke radio Suara Surabaya. Pengaduan Siami disiarkan secara on air.
Laporan udara itu berkembang menjadi pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun langsung menyambangi sekolah Al dan memarahi guru-gurunya. Risma juga langsung memerintahkan inspektorat serta membentuk tim independen untuk menyelidiki masalah tersebut.

Tim merekomendasikan agar Fakkurahman, seorang guru lainnya, Prayitno, dan Kepala Sekolah Sukatman diberi sanksi. Tak lama setelah rekomendasi turun, ketiga guru itu diberhentikan.

Sukatman ditarik ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya, adapun Fatkur dan Prayitno dimutasi ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tandes. Tak hanya itu, pangkat ketiganya diturunkan serta mencabut beberapa tunjangan yang diterima.

Sanksi terhadap ketiga guru itu diprotes keras warga. Pada 8 Juni 2011, puluhan ibu-ibu, terutama wali murid kelas VI, berunjuk rasa di depan rumah Siami. Mereka berteriak-teriak mengusir Siami karena dinilai meresahkan.

Sehari kemudian, saat digelar pertemuan antara Siami dan perwakilan warga di Balai Rukun Warga, massa kembali berteriak-teriak mengusir Siami ke luar dari kampung. “Sejak pertemuan di Balai RW itu dia (Siami) sudah tidak pulang ke sini,” kata Rum, tetangga Siami.

Fatkurahman sendiri enggan dimintai keterangan. Ketika dicegat seusai pertemuan di Balai RW itu, guru yang dikenal santun dan telaten membimbing siswa itu hanya berkata, “Saya tidak mau berkomentar.”

Ketua Tim Independen Bentukan Wali Kota, Daniel M. Rosyid, mengatakan pengusiran terhadap Siami dinilai berlebihan. Daniel menduga, pengusiran itu dilatarbelakangi kekhawatiran wali murid kelas VI bila diadakan UASBN ulang.

Padahal, kata dia, niat Siami bagus karena ingin menumbuhkan semangat kejujuran di kalangan siswa. “Jadi, terlalu jauh kalau sampai mengusir Bu Siami,” kata Daniel yang juga pengajar di Institut Teknologi 10 November ini.

KUKUH S WIBOWO

------------

Korban Contek Massal Itu Sempat Menyendiri
Selasa, 14 Juni 2011 | 20:17 WIB

TEMPO Interaktif, Wajah Al --nama inisial--, kini kembali ceria. Perasaan siswa kelas VI SD Negeri Gadel II, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur itu juga sudah mulai tenang.

Padahal sebelumnya, kata Siami, ibu Al, anaknya itu kerap menyendiri di dalam kamar. Al ketakutan sejak kasus mencontek massal saat ujian nasional beberapa waktu lalu terungkap dan diberitakan di sejumlah media massa.

Apalagi, lantaran kasus itu, keluarganya terusir dari tempat tinggal mereka di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur. “Saya kecewa kenapa wali murid lain memusuhi kami,” ujar Al saat ditemui Tempo, Selasa, 14 Juni 2011.

Sejumlah wali murid dan warga di kampung itu menganggap tindakan Siami yang mengungkapkan kasus contek massal itu telah mencoreng nama baik sekolah. Warga semakin marah kepada keluarga itu ketika kepala sekolah dan dua orang guru di sekolah tersebut dimutasi lantaran kasus itu. Mereka pun mengusir keluarga Al.

Keluarga Al lantas mengungsi ke Dusun Lumpang, Desa Sedapur Klagen, Kecamatan Gadel, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sudah hampir sepekan dia berada di rumah kakeknya itu. Saat ini, dia tidak merasa tertekan lagi. Bahkan, dia sudah bermain bola kembali bersama teman-teman sebayanya. “Saya nyaman di sini,” ujar Al.

Di sekolahnya, Al dikenal sebagai anak yang cerdas. Sejak kelas satu, kata Siami, anaknya selalu mendapat ranking satu. Al selama ini belajar didampingi bapaknya Widodo yang bekerja di pergudangan Margomulyo Surabaya. "(Ikut) les hanya menjelang ujian nasional," kata Siami.

Ia menjelaskan, awalnya Al tak mengaku jika memberikan contekan saat ujian nasional lalu. Namun, Siami justru mengetahuinya dari teman sekolah di kelas yang berbeda. Jawaban Al, katanya, disalin dan diedarkan ke seluruh kelas 6A dan kelas 6B.

Modusnya, Al menulis jawaban di kertas buram yang disediakan wali kelasnya. Namun, saat itu Al tak memberikan seluruh jawabannya yang dianggapnya benar. Alasannya, ia mengaku kesal dan takut dengan orang tuanya. "Sekitar 40-50 persen jawabannya berbeda," katanya.

Selanjutnya, kertas buram berisi jawaban Al disalin oleh teman di bangku belakang di kertas buram lainnya. Kemudian, lembar jawaban tersebut diserahkan ke siswa lain kelas di dalam toilet sekolah atau di depan pot bunga.

Menurut Siami, ia sengaja membongkar contekan massal tersebut demi kelangsungan pendidikan. Anak seusia Al, katanya, merupakan masa pembentukan karakter. Jika sejak kecil tak jujur, ia khawatir akan mempengaruhi jiwa dan sikapnya kelak di kemudian hari. "Ia saya didik agar pandai dan jujur," katanya.

EKO WIDIANTO



---------------


Pengurus Kampung Bujuk Siami Kembali ke Surabaya
Selasa, 14 Juni 2011 | 16:14 WIB



TEMPO Interaktif, Surabaya - Pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Karangpoh, Kecamatan Tandes, Surabaya berupaya menyelesaikan konflik antara Siami dengan warga kampung Gadel dengan menggelar islah.

Sekretaris LKMK Karangpoh Abdullah mengatakan niat pengurus itu sudah mulai disosialisasi kepada warga. "Reaksi warga beragam, ada yang mendukung Bu Siami balik ke Gadel, ada pula yang tidak setuju dia balik ke kampung ini," kata Abdullah saat dijumpai di rumahnya, Selasa 14 Juni 2011.

Meski mendapat tentangan, kata Abdullah, LKMK tidak berhenti untuk mengupayakan islah. Bahkan, Abdullah sendiri telah menemui Siami yang saat ini mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Lumpang, Desa Dapurklagen, Kecamatan Benjeng, Gresik. "Saya berusaha membujuk agar Bu Siami mau balik ke Gadel, tapi dia belum bersedia karena masih trauma," ujar Abdullah.

Menurut Abdullah, pengusiran warga terhadap Siami lebih disebabkan oleh simpati mereka terhadap tiga guru SD Negeri Gadel 2 yang kini dijatuhi sanksi. Ketiga guru dijatuhi sanksi menyusul laporan Siami bahwa telah terjadi aksi menyontek massal di sekolah tersebut saat ujian nasional lalu. Siami membuka kecurangan itu karena anaknya, Al, diminta oleh gurunya untuk memberi contekan.

Ketiga guru yang kini ditarik menjadi staf ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya itu ialah Kepala Sekolah Sukatman, Wali Kelas VI Fatkurahman, dan guru Prayitno. "Ketiga guru ini sudah mengabdi lama di sekolah itu, sementara Siami dianggap pendatang baru," kata Abdullah.

Tempo menghubungi Siami lewat telepon selulernya. Namun, telepon diterima Widodo, suami Siami. Widodo menyambut baik keinginan pengurus kampung yang berkeinginan menggelar islah. Tapi, menurut dia, istrinya belum ada keinginan untuk kembali ke kampungnya karena masih dihinggapi trauma. "Untuk sementara ini istri saya merasa tenang di rumah orang tuanya," kata Widodo.

KUKUH S WIBOWO


--------------


Siami Trauma dan Tak Mau Kembali ke Rumah
Selasa, 14 Juni 2011 | 17:37 WIB


TEMPO Interaktif, Gresik - Siami, ibunda Al, siswa SD Negeri Gadel II Surabaya, sejak sepekan lalu mengungsi ke rumah orang tuanya di Dusun Lumpang, Desa Sedapur Klagen, Kecamatan Gadel, Kabupaten Gresik. Ia mengaku takut dan terusir dari rumahnya setelah warga setempat berunjuk rasa mengecam dirinya yang membongkar contek massal tersebut.

"Saya sempat diamankan di Kepolisian Sektor Tandes Surabaya," katanya. Ia mengaku keselamatannya terancam dan tak akan kembali ke rumahnya, meski sejumlah warga memintanya kembali ke kampung dan menyatakan meminta maaf.

Ia bersama kedua putranya memilih berdiam di rumah orang tuanya hingga pengumuman hasil Ujian Nasional mendatang. Kini Al mulai tenang dan bermain sepak bola bersama teman sebayanya. Padahal, sebelumnya Al ketakutan dan menyendiri di dalam kamar.

Rumah yang didiami Siami terlihat sederhana, berlantai semen dan berdinding papan. Di dalam rumah seluas 100 meter persegi ini, hanya lemari dan meja kursi yang menjadi perabot rumahnya. Rumah tersebut ramai dengan tetangga dan kakak Siami selalu mendampinginya.

Al, katanya, terus mendapat ranking satu sejak kelas 1. Cara belajar di rumah pun, kata Siami, sama dengan siswa lainnya. Al selama ini belajar didampingi bapaknya Widodo yang bekerja di pergudangan Margomulyo Surabaya. "Tak pernah les, les hanya menjelang ujian nasional," katanya.

Ia menjelaskan jika awalnya Al tak mengaku jika memberikan contekan saat ujian nasional lalu. Namun, Siami justru mengetahuinya dari teman sekolah di kelas yang berbeda. Jawaban Al, katanya, disalin dan diedarkan ke seluruh kelas 6A dan kelas 6B.

Modusnya, Al menulis jawaban di kertas buram yang disediakan wali kelas Fatkhur. Namun, saat itu Al tak memberikan seluruh jawabannya yang dianggapnya benar. Alasannya, ia mengaku kesal dan takut dengan orang tuanya. "Sekitar 40-50 persen jawabannya berbeda," katanya.

Selanjutnya, kertas buram berisi jawaban Al disalin oleh teman di bangku belakang di kertas buram lainnya. Kemudian, lembar jawaban tersebut diserahkan ke siswa lain kelas di dalam toilet sekolah atau di depan pot bunga.

Al kemudian mengaku disuruh oleh Wali Kelas Fatkhur memberikan contekan ke teman-temannya. Awalnya Al menolak, namun tak kuasa menolak permintaan sang guru. "Kalau kamu ingin balas budi gurumu, ajari teman-temanmu. Jika tak mau, kelak kamu tak bisa sukses," kata Siami menirukan ucapan Fatkhur kepada Al.

Atas kejadian ini, ia telah melaporkannya ke Kepala Sekolah SD Negeri Gadel II Surabaya, Sukatman. Awalnya, Sukatman kaget atas kejadian tersebut dan menyatakan meminta maaf. Namun, Sukatman melarang Siami melangkah lebih jauh. "Saya hanya ingin wali kelas Fatkhur meminta maaf," katanya.

Namun, setelah sepekan tak ada tindak lanjut. Ia kemudian melaporkan kasus tersebut ke Radio Suara Surabaya serta mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Surabaya. Siami ditemui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Surabaya, Eko Prasetyoningsih. Namun, Eko justru balik menyudutkan Siami lantaran dianggap tak memiliki bukti dan saksi.

"Ibu, siap jika dituntut balik wali kelas lain," kata Siami menirukan Eko Prasetyoningsih. Eko, katanya, juga menyalahkan Al yang memberikan contekan kepada teman-temannya. Siami pun ketakutan dan banyak menanggapi pernyataan Eko.

Ia kembali bersemangat setelah mendapat dukungan dari media massa yang memberitakan kasus tersebut. Bahkan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendatangi Siami dan meminta penjelasan kronologis kejadiannya. Setelah itu, Risma membentuk tim untuk mengusut kasus tersebut terdiri dari Inspektorat dan Dinas Pendidikan.

Hasilnya, Ispektorat menjatuhkan sanksi kepada Wali Kelas 6 Fatkhur dan Suprayitno serta Kepala Sekolah SD Negeri Gadel II Surabaya Sukatman. Ketiganya mendapat sanksi administrasi, di antaranya mencabut jabatan fungsional sebagai guru dan pemindahannya bertugas di Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Menurut Siami, ia sengaja membongkar contekan massal tersebut demi kelangsungan pendidikan. Anak seusia Al, katanya, merupakan masa pembentukan karakter. Jika sejak kecil tak jujur, ia khawatir akan mempengaruhi jiwa dan sikapnya kelak di kemudian hari. "Ia saya didik agar pandai dan jujur," katanya.

EKO WIDIANTO



------------

Anies: Warga Penganjur Murid Menyontek Wajib Dipermalukan
Selasa, 14 Juni 2011 | 18:49 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina, Anies Bawesdan, minta masyarakat yang mendukung tindakan penyontekan yang dilakukan murid di Sekolah Dasar Gadel 2 Surabaya dipermalukan melalui media massa. Menurut dia, masyarakat seperti itu perlu diberikan label pembela ketidakjujuran dan pembela para koruptor.

"Berikan sorotan pada mereka yang memerangi kejujuran, pasti malu," kata Anies Baswedan di Kantor Wakil Presiden, Selasa, 14 Juni 2011.

Sebelumnya, aksi menyontek masal terjadi di SD SD Gadel 2 Surabaya dalam Ujian Nasional. Orangtua siswa dari SDN Gadel 2 Surabaya melaporkan adanya praktek kecurangan selama pelaksanaan Ujian nasioanl. Siswa berinisial AI diminta memberikan jawaban soal kepada teman-temannya. Bahkan, menurut pengakuan AI, terdapat gladi resik menyontek sebelum ujian.

Menurut Anies, banyak orang yang sudah tidak punya malu, tapi masyarakat tingkat bawah masih memiliki malu. "Marilah ramai-ramai mengkritik mereka yang memerangi kejujuran," kata Anies. "Pendukung ketidakjujuran pasti malu dikritik."

Ia merasa prihatin dengan kondisi yang terjadi di Surabaya. "Ini memprihatinkan karena yang bereaksi ini justru masyarakat," kata Anies.

Menurut Anies, langkah terbaik yang perlu dilakukan adalah mengungkap semua kebobrokan Kelurahan (LKMK) Karangpoh, Kecamatan Tandes, Surabaya yang sempat mendemo anti penyontekan itu. Ia menilai sikap masyarakat di Karangpoh, Kecamatan Tandes, Surabaya sudah tidak lazim lagi.

"Seharusnya yang normal, rakyat tingkat bawah itu membela kejujuran," kata Anies. "Secara akal sehat rakyat sikap masyarakat itu agak berlawanan."

EKO ARI WIBOWO

1 comment:

Fitri Meidyawati Apok said...

nyontek seakan jadi budaya, padahal itu kebiasaan buruk yg sudang mengakar. bukankah nyontek itu cikal bakal dari korupsi?
salam kenal dr saya, fivi. Palu, Sulteng.
Salam pendidikan untuk perubahan.